Anak Krakatau Mengubah Jalan Pulang

 

Erupsi Anak Krakatau mengacaukan penerbangan di sejumlah bandara. Saya tidak tinggal di kaki gunung, tetapi abu vulkaniknya sampai ke jadwal, dompet, dan perjalanan pulang saya dari Palangka Raya, berbelok ke Yogyakarta, lalu menumpang kereta menuju Jakarta.

--- --- ---


Saya menulis ini dari kursi 4A Kereta Argo Taksaka.

Meja lipat terbuka. Laptop menyala. Colokan charger menancap di dinding kabin. AC dingin. Kursi empuk. Pelayan kereta baru saja mengantar kopi.

Nyaman? Sangat.

Tapi kenyamanan ini saya bayar mahal. Secara harfiah.

Seharusnya siang ini saya sudah di ruang redaksi. Penerbangan langsung dari Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya ke Soekarno-Hatta hanya 90 menit. Tiket sudah dibeli jauh hari. Harga wajar.

Kenyataannya? Saya sedang melaju di atas rel menuju Stasiun Gambir. Total perjalanan pulang lebih dari 12 jam. Untuk rute yang seharusnya satu setengah jam.

Saya bukan orang yang tinggal di kaki gunung, lalu pagi-pagi membuka pintu dan mendapati halaman rumah sudah ditaburi abu Anak Krakatau.

Saya juga bukan pengungsi yang harus berkemas buru-buru, menggendong anak, lalu lari meninggalkan zona bahaya. Kawah itu ribuan kilometer jauhnya dari tempat saya berada. Saya bahkan merasa cukup aman, sampai Anak Krakatau mendadak tantrum memuntahkan abu vulkaniknya.

Bencana rupanya tidak selalu datang untuk menyentuh tubuh. Kadang ia cukup menyentuh jadwal penerbangan.

Cukup satu notifikasi di ponsel. PENERBANGAN DIBATALKAN.

Maka orang yang tadinya hanya ingin pulang, mendadak harus menghitung ulang waktu, ongkos, rute, dan kesabaran. Begitulah saya mengalami erupsi Anak Krakatau. Bukan dari kaki gunung. Bukan dari tenda pengungsian. Melainkan dari ruang tunggu bandara, layar ponsel, antrean panjang, lalu akhirnya dari kursi kereta yang melaju menuju Jakarta.

Barangkali beginilah cara bencana modern bekerja. Ia tidak selalu datang dalam bentuk abu yang jatuh di kepala. Kadang ia datang sebagai tiket yang hangus, jadwal yang berantakan, dan ongkos pulang yang mendadak menjadi tiga kali lipat.

Seminggu terakhir, saya dan Ridwan, reporter muda yang mendampingi saya di Palangka Raya dan Kasongan, ibu kota Kabupaten Katingan, sudah terjebak kabut asap karhutla. Jarak pandang di Tjilik Riwut anjlok. Penerbangan delay. Langit oranye seperti filter Instagram yang macet.

Tapi itu baru babak pembuka. Pagi 6 September, saya menuju ke Bandara Tjilik Riwut dengan koper sudah dikemas. Ridwan mengantar. Kami pikir hari ini pulang. Yang kami temukan di terminal keberangkatan bukan antrean check-in. Melainkan kerumunan.

Ratusan calon penumpang terlantar. Sebagian besar warga Palangka Raya dan sekitarnya, Kapuas, Pulang Pisau, Gunung Mas. Mereka datang ke bandara bukan untuk terbang sesuai tiket yang dipesan, melainkan untuk memastikan nasib penerbangannya. Apakah di-reschedule? Apakah bisa ditukar rute? Apakah bisa refund?

Antrean di konter maskapai mengular sampai ke pintu masuk. Seorang ibu menggendong anak balita sambil berdebat dengan petugas ground staff. Suaranya sudah serak.

“Kami sudah dari tadi pagi di sini, Mbak. Anak saya batuk terus. Ini asap di luar, sekarang pesawat batal lagi.”

Di sudut lain, seorang bapak paruh baya duduk di lantai dengan tiga tas besar dan ekspresi pasrah. Dia tidak lagi antre. Dia sudah menyerah.

“Ngapain antre,” katanya saat saya lewat. “Orang di atas sana juga tidak tahu kapan bisa terbang.”

Dan di antara kerumunan warga lokal, saya melihat beberapa wajah asing. Turis mancanegara. Ransel besar. Wajah bingung.

Salah satunya seorang pria berambut pirang yang sedang menatap papan informasi penerbangan seolah itu karya seni abstrak. Semua baris bertuliskan CANCELLED.

“Excuse me,” sapanya saat melihat saya memegang ponsel yang juga penuh notifikasi pembatalan. “Is this... normal? In Indonesia?”

“Depends on the season,” jawab saya. “Fire season, we get haze. Volcano season, we get ash. Sometimes both at the same time.”

Dia tertawa kecil. Nervous laugh. “So what do you do?”

“You improvise.”

“Improvise how?”

Saya menunjuk ponsel saya yang sedang membuka aplikasi tiket kereta api. “Like this.”

Dia mengangguk-angguk, masih tidak sepenuhnya paham, lalu kembali menatap papan informasi yang tetap tidak berubah. Saya tinggalkan dia di sana. Semoga dia menemukan jalannya.

Penyebab kekacauan itu bukan lagi asap karhutla. Palangka Raya justru mulai terang. Penyebabnya adalah gunung kecil di Selat Sunda. Anak Krakatau erupsi.

Tingginya baru sekitar 150 meter dari permukaan laut. Masih balita kalau dibandingkan Merapi atau Semeru. Tapi ketika balita ini tantrum, dampaknya luar biasa. Abu vulkaniknya muncrat ke atmosfer, menyebar mengikuti angin, dan mengganggu lalu lintas udara di sejumlah bandara Jawa dan Sumatra.

Per 7 September ini, delapan bandara di Indonesia tetap ditutup atau terganggu operasionalnya akibat sebaran abu vulkanik. Lebih dari 1.500 penerbangan terdampak. Sekitar 170.000 penumpang terlantar.

Soekarno-Hatta di Tangerang? Ditutup. Halim Perdanakusuma? Terganggu. Ahmad Yani di Semarang? Belasan penerbangan dibatalkan. Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo? Puluhan penerbangan hangus. Husein Sastranegara, Kertajati, dan bandara-bandara lain ikut kena dampaknya.

Satu gunung kecil. Delapan bandara. Seratus tujuh puluh ribu manusia yang jadwal hidupnya berantakan.

Lalu apa yang sudah dilakukan pemerintah?

Menteri Perhubungan bergerak. Bandara alternatif disiapkan. Informasi disebar. Saya akui, responsnya tidak lambat.

Tapi yang saya rasakan sebagai penumpang yang berdiri di tengah kerumunan Tjilik Riwut pagi tadi, belum terlihat satu pola koordinasi lintas moda yang sederhana. Semua diserahkan ke inisiatif masing-masing.

Kalau Anda tidak cukup nekat atau cukup melek informasi, Anda akan duduk di ruang tunggu bandara yang tutup dan menunggu keajaiban. Seperti bapak paruh baya dengan tiga tas besar tadi. Seperti turis pirang yang masih menatap papan CANCELLED.

Maka saya ambil keputusan; rerouting mandiri.

Terbang dari Tjilik Riwut ke YIA, saya memilih Yogyakarta sebagai pintu masuk ke Jawa yang masih memungkinkan, meskipun penerbangannya juga sudah berkurang drastis. Dari YIA, naik kereta bandara ke Stasiun Tugu. Lalu sambung kereta Argo Taksaka langsung ke Stasiun Gambir.

Rute yang seharusnya lurus dari Kalimantan ke Jakarta mendadak seperti orang salah belok. Terbang ke Kulon Progo, turun dari pesawat, lalu pindah jalur ke kereta. Dari YIA kami merayap ke Stasiun Tugu, sebelum Argo Taksaka membawa saya melewati Kutoarjo, Purwokerto, Cirebon, Jatinegara, dan akhirnya Gambir.

Jakarta yang biasanya hanya satu penerbangan kini harus dikejar dengan pesawat, kereta bandara, lalu kereta api. Sesuai jadwal, baru malam nanti saya kembali menginjak Jakarta.

Ongkosnya? Tiket last minute PKY–YIA nyaris tiga kali lipat tarif normal. Ditambah Taksaka eksekutif. Ditambah kereta bandara. Ditambah makan siang harga bandara, bentuk perampokan legal yang kita semua maklumi.

Total pengeluaran pulang saya hari ini cukup untuk tiket PP Jakarta-Singapura kalau sedang promo.

Per 6 September, sedikitnya lima gunung api Indonesia tercatat berstatus Level III alias Siaga. Anak Krakatau, Semeru, Sinabung, Lewotobi Laki-laki, dan Merapi. Lima gunung. Bersamaan.

Di Sinabung, ratusan keluarga sudah mengungsi. Anak-anak tidur di tenda. Orang tua membersihkan atap dari tumpukan abu. Kebutuhan mereka sangat mendasar; masker N95, air bersih, terpal, obat pernapasan.

Saya? Saya hanya ketiban apes mobilitas. Ongkos membengkak. Waktu terbuang. Tapi saya masih duduk di kursi empuk Taksaka dengan colokan charger dan kopi gratis. Justru karena itu saya merasa perlu menulis ini.

Kita punya aplikasi tiket paling canggih. Pesawat jet paling modern. Kalender digital paling presisi. Tapi satu gunung setinggi 150 meter di Selat Sunda berdehem, dan seluruh jadwal kita berantakan. Delapan bandara tutup. Seratus tujuh puluh ribu penumpang terlantar. Seorang redaktur harus nyasar ke Yogyakarta naik kereta api hanya untuk pulang ke rumahnya sendiri.

Alam adalah hakim agungnya. Keputusannya inkrah. Tak ada celah kasasi. Dan kita, dengan segala teknologi dan kesombongan kita, tetap saja tidak bisa menyuruhnya diam.

Belum genap sejam saya duduk di kursi 4A Argo Taksaka. Kopi masih hangat, laptop baru terbuka, sementara Jakarta masih jauh di depan.

Ponsel saya bergetar. Pesan dari Ridwan masuk. “Mas Fit, Merapi katanya batuk-batuk kecil. Hati-hati di jalur selatan.”

Saya tersenyum. Baru juga berhasil keluar dari satu kekacauan, anak ini sudah mengingatkan kemungkinan masalah berikutnya.

Saya balas singkat. “Tenang. Argo Taksaka jalannya 120 km/jam. Merapi jalannya nol.”

Beberapa detik kemudian, balasannya muncul. “Tapi abunya terbang, Mas.”

Saya belum sempat menjawab ketika satu pesan lagi masuk. “Abu tidak butuh tiket kereta.”

Saya menatap layar beberapa detik. Benar juga. Pesawat bisa dialihkan. Kereta bisa dipacu. Manusia bisa mencari jalan memutar.  Tapi abu? Ia cukup mengikuti angin.

Saya masukkan ponsel ke saku, lalu menyesap kopi yang mulai mendingin. Ridwan memang menyebalkan. Tapi kali ini, anak itu benar.

Komentar