Menunggu Hujan dan Ritual Tahunan Membakar Paru-Paru
Di sebuah kafe ber-AC di Kasongan, kami menghitung angka racun udara, miliaran anggaran bencana, dan absurdnya negara yang menggantungkan nasib rakyatnya pada awan. --- --- --- Kasongan hampir tengah malam, tetapi udara di luar Hotel Win Romeo tidak juga mendingin. Justru terasa makin pekat. Bau sangit menusuk tajam, merembes lewat celah bawah pintu kamar seperti asap obat nyamuk yang kelewatan dosis. Saya dan Ridwan menyerah. Menjelang pukul sepuluh malam, kami nekat keluar kamar. Bertenagakan masker medis tipis, kami berburu suaka. sebuah kafe berruangan tertutup dekat kompleks perkantoran Pemkab Katingan, yang memiliki pendingin udara penuh. Di Kasongan malam ini, AC bukan lagi fasilitas kenyamanan. Ia adalah alat pertahanan hidup. Di kafe pilihan itu, Suseno sudah duduk menunggu. Suseno adalah kawan lama, meski usianya jauh lebih senior. Antara tahun 2011 hingga 2012 lalu, saat saya masih bertugas sebagai reporter daerah di Kabupaten Katingan, kami kerap berada di satu la...



