Kartun Upin Ipin Roasting Kebakaran Hutan Kita
Pagi itu rumah saya seperti pasar kecil yang belum siap
buka.
Istri sibuk di dapur menyiapkan bekal untuk Varsha dan bekal
untuknya sendiri karena ia sif pagi. Saya kebagian tugas yang lebih heroik; memandikan
Varsha.
Mandikan anak tujuh tahun itu bukan sekadar aktivitas
kebersihan. Itu negosiasi. Air terlalu dingin. Sampo perih. Sabunnya bukan yang
wangi stroberi. Handuknya kurang lembut. Setiap langkah adalah komplain. Saya
hanya bisa mengangguk-angguk seperti customer service yang sudah pasrah.
Selesai mandi, saya ganti bajunya. Varsha langsung lari ke
ruang tengah, menyambar remote, dan menyalakan televisi. Zira, adiknya, sudah
menunggu di sofa seperti penonton setia yang tidak pernah absen. Dua bocah,
satu layar, satu misi. Kartun pagi.
Saya? Santai. Tidak ada agenda pagi. Ke kantor paling siang,
atau sore, atau kalau semesta baik, tidak sama sekali.
Saya lewat sebentar, mau ambil kopi. Lalu telinga saya
menangkap satu kata yang membuat langkah berhenti.
"Jerebu."
Lalu, "asap."
Saya menoleh. Di layar, Upin dan Ipin sudah mengenakan
masker. Tok Dalang batuk-batuk. Opah menasihati. Semua orang di Kampung Durian
Runtuh tampak sibuk membicarakan udara yang tidak layak dihirup.
Saya berdiri di ruang keluarga, memegang gelas kopi kosong,
merasa seperti sedang ditegur oleh dua bocah gundul dari seberang selat.
Ternyata itu tayangan ulang. Episode lama tentang kabut
asap. Diputar lagi. Pada pagi ini. Di saat Kalimantan dan Sumatra sedang
terbakar.
Dan ternyata bukan hanya di televisi. Di jagat maya, teguran
itu dikemas jauh lebih rapi. Pada 9 September 2026, akun Instagram resmi
@upinipinofficial mengunggah sesuatu yang membuat dahi berkerut.
Bukan promo episode baru. Bukan pula resep ayam goreng Kak
Ros.
Mereka mengunggah materi edukasi perlindungan diri
menghadapi jerebu. Visualnya jelas, Upin dan Ipin mengenakan masker, lengkap
dengan panduan menjaga kesehatan saat kualitas udara memburuk.
"Mari amalkan langkah mudah untuk kekal sihat dan
selamat semasa jerebu," begitu bunyinya.
Isinya standar. kurangi paparan, pakai masker, jaga
kebersihan, minum yang cukup. Sederhana. Ramah anak. Tidak menyalahkan
siapa-siapa.
Tapi justru di situ letak masalahnya.
Ketika kartun anak-anak dari negeri tetangga sudah membuat
konten edukasi tentang jerebu, sementara kita di sini masih sibuk berdebat
siapa yang membakar dan siapa yang tidak, ada sesuatu yang salah dengan urutan
prioritas.
Saya duduk di sofa. Varsha menatap saya heran karena tumben
ayahnya ikut nonton kartun dengan wajah serius.
"Kenapa, Yah?"
"Nggak apa-apa. Ayah cuma… lagi ditegur."
"Sama siapa?"
"Sama Upin Ipin."
Varsha tertawa. Zira ikut tertawa karena kakaknya tertawa.
Saya tidak tertawa. Saya sedang memikirkan kenapa dua karakter animasi dari
Malaysia bisa lebih dulu memberi tahu anak-anak saya soal kabut asap, dibanding
tayangan pagi manapun dari negeri sendiri.
Coba bayangkan. Asap itu produksi kita. Bahan bakunya lahan
kita. Titik apinya di provinsi kita. Tapi kampanye kesadarannya justru viral
dari studio animasi di Shah Alam.
Ini seperti tetangga yang datang ke rumah kita, membawa
sapu, lalu berkata dengan sopan, "Maaf ya, halaman abang berdebu. Nih,
saya bantu bersihkan."
Sopan sekali. Tapi menohok juga.
Sarawak menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak
karena letaknya menempel erat dengan Kalimantan. Kualitas udara di beberapa
wilayah Malaysia dilaporkan sempat memburuk. Warganya mulai khawatir. Anak-anak
mereka pun mulai bertanya, "Mak, kenapa langit kelabu?"
Dan jawaban dari Mak, barangkali, adalah menyalakan televisi
lalu memutar Upin Ipin episode jerebu.
Sementara di Kalimantan masih kewalahan. Data dari
pemerintah daerah menunjukkan jumlah titik panas dan luas area terbakar sudah
mencapai angka yang cukup besar.
Angka boleh diperdebatkan. Yang tidak bisa diperdebatkan
adalah baunya. Warnanya. Sesaknya di dada. Dan kenyataan bahwa asap tidak butuh
paspor untuk menyeberang perbatasan.
Yang menarik dari unggahan Upin Ipin itu bukan soal siapa
menyalahkan siapa. Studio animasi itu bahkan tidak menyebut nama negara
manapun. Mereka hanya mengajarkan anak-anak cara pakai masker. Cara minum air
yang cukup. Cara menjaga diri. Itu justru yang paling elegan.
Mereka tidak marah. Mereka tidak nyinyir. Mereka tidak
posting foto langit kelabu dengan caption sarkastik. Mereka hanya membuat
konten edukasi, mengunggahnya di akun resmi, dan membiarkan publik menyimpulkan
sendiri.
Hebatnya lagi, isu ini tidak masuk lewat protes diplomatik
bernada tinggi atau pidato kenegaraan yang kaku. Ia menyusup lewat budaya pop.
Lewat akun karakter animasi anak-anak yang pengikutnya jutaan.
Diplomasi paling halus di abad ini, ternyata, dilakukan oleh
dua anak kecil berkepala plontos.
Varsha akhirnya diantar ibunya ke sekolah. Zira diantar ke
pengasuhnya. Rumah mulai sepi. Televisi masih menyala. Upin dan Ipin masih
berbicara soal jerebu dengan logat Malaysia yang khas.
Saya menonton sampai habis. Bukan karena saya suka. Tapi
karena saya penasaran, sejauh apa mereka bicara soal ini.
Ternyata jauh sekali. Mereka bicara soal kesehatan, soal
solidaritas tetangga, soal cara membantu orang tua yang batuk-batuk, soal
pentingnya tidak keluar rumah kalau tidak perlu. Semuanya dikemas dalam bahasa
anak-anak. Ringan. Lucu. Mudah dicerna.
Dan saya berpikir, kapan terakhir kali tayangan anak-anak
kita membahas kabut asap dengan cara seserius itu? Kapan terakhir kali karakter
kartun lokal kita berdiri di depan kamera dan berkata, "Adik-adik, hari
ini udara di luar tidak sehat, mari pakai masker"? Saya tidak ingat.
Media sosial membuat semuanya bergerak cepat. Kebakaran di
sudut Kalimantan yang dulu hanya jadi masalah warga sekitar, kini bisa jadi
bahan percakapan warganet Kuala Lumpur dalam hitungan jam. Sebuah unggahan akun
resmi karakter animasi bisa lebih efektif dari siaran pers kementerian. Ini
kabar baik sekaligus kabar buruk.
Kabar baiknya, isu lingkungan akhirnya masuk ke ruang budaya
populer. Pesan tentang masker dan kualitas udara dikemas dengan cara yang jauh
lebih dekat dengan pembaca dibanding istilah teknis PM2.5 atau ISPU.
Kabar buruknya, kita jadi belajar soal masalah kita sendiri
dari luar. Dari tetangga. Dari kartun.
Bagi Kalimantan, ini bukan sekadar soal pemadaman titik api
atau helikopter water bombing yang mondar-mandir di atas gambut. Ada
dimensi kesehatan yang menempel pada setiap napas anak-anak yang sekolah di
pagi berkabut. Ada dimensi ekonomi yang menempel pada pedagang yang sepi karena
orang enggan keluar rumah. Ada dimensi pendidikan yang menempel pada sekolah
yang terpaksa diliburkan. Ada dimensi transportasi yang menempel pada
penerbangan yang tertunda.
Dan sekarang, ada dimensi hubungan antarnegara yang menempel
pada unggahan Instagram sebuah studio animasi.
Asap tidak pernah hanya asap. Ia adalah surat kabar tanpa
huruf, yang dibaca semua orang di sekitarnya.
Sebelum berangkat ke kantor, saya sempat mengecek langit
dari jendela. Warnanya belum kelabu. Masih biru, meski agak lelah. Angin belum
membawa kiriman apa-apa. Untuk saat ini.
Tapi saya tahu, di suatu tempat di provinsi ini, ada lahan
yang sedang terbakar. Ada petugas yang sedang berjibaku. Ada warga yang sudah
menyiapkan masker di dekat pintu. Dan ada anak-anak Malaysia yang sedang
menonton Upin Ipin, belajar bagaimana melindungi diri dari asap yang, kalau
kita jujur, sebagian besar berasal dari halaman rumah kita.
Varsha pulang sekolah nanti mungkin akan bertanya soal
episode tadi. Kenapa Upin dan Ipin pakai masker. Kenapa langit di kartun itu
kelabu. Kenapa Opah batuk-batuk.
Saya belum tahu harus menjawab apa. Mungkin saya akan
bilang, "Karena ada orang dewasa yang lupa menjaga hutan, Nak."
Atau mungkin saya akan diam saja, lalu ikut menonton bersama
mereka. Belajar dari kartun. Seperti seharusnya sejak dulu.
Kadang, teguran paling keras memang datang dari suara paling
kecil.



Komentar
Posting Komentar