Tidak Miskin, Tidak Kaya, Tidak Apa-Apa
--- --- ---
Di rumah, urusan ekonomi tidak pernah dimulai dengan
pertanyaan, “kita masuk kelompok mana? Desil berapa.”
Biasanya jauh lebih sederhana. Beras masih. Token aman? Bensin?
Atau pertanyaan paling sakral dalam keluarga, “ini memang
perlu dibeli?”
Saya dan istri tidak punya rapat pemegang saham untuk
membahasnya. Kami hanya menjalani.
Istri saya perawat. Ia bekerja dengan jadwal dinas, pasien,
obat, dan kelelahan yang kadang dibawa pulang diam-diam. Saya wartawan. Ada
bulan ketika pekerjaan datang deras. Ada masa ketika pekerjaan terasa seperti
tamu yang terlalu lama di perjalanan.
Tetapi di rumah, pendapatan kami tidak pernah dijadikan
pertandingan. Tidak ada uang saya. Tidak ada uang istri saya. Yang ada hanya
rezeki keluarga.
Saya mengambil seperlunya untuk bensin, makan, parkir, dan
kebutuhan kerja. Sisanya dikelola istri sesuai kebutuhan rumah, tagihan, dan
anak-anak. Tidak ada upacara serah terima. Tidak ada berita acara. Tidak ada
tanda tangan pejabat pembuat komitmen.
Kalau seseorang berjalan, kita tidak pernah bertanya kaki
kiri atau kaki kanan mana yang paling berjasa. Keduanya dipakai untuk sampai
tujuan. Begitu pula keluarga.
Kadang satu orang membawa uang lebih banyak. Kadang yang
lain. Kadang kontribusi berupa uang. Kadang berupa waktu, tenaga, atau
keputusan yang tidak pernah masuk mutasi rekening.
Siapa yang mengantar anak? Siapa yang membeli obat? Siapa
yang mengingat jadwal imunisasi? Siapa yang tetap bekerja ketika badan sedang
tidak ingin diajak bekerja?
Kalau semua itu dihitung dengan rupiah, rumah akan segera
berubah menjadi kantor akuntan. Kami tidak ingin hidup seperti itu.
Lalu saya menemukan istilah yang menarik. Garis kemiskinan.
Saya pernah membaca kategorinya dengan perasaan agak geli.
Bukan karena angkanya lucu. Yang lucu adalah membayangkan negara sedang
berusaha menjelaskan kehidupan keluarga saya dengan sebuah angka.
Badan Pusat Statistik pada Maret 2026 mencatat persentase
penduduk miskin Indonesia sebesar 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang.
Garis Kemiskinan nasional pada periode yang sama tercatat Rp669.235 per kapita
per bulan. Saya membaca angkanya pelan-pelan.
Perlu saya tegaskan sejak awal. Angka Rp669.235 itu bukan
"batas aman keluarga". Ia adalah nilai rupiah minimum yang dibutuhkan
seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non-makanan dalam sebulan,
dan digunakan BPS untuk menentukan siapa yang secara statistik berada di bawah
garis kemiskinan. Bukan garis siapa yang bisa tidur nyenyak.
Tetapi jika sekadar diperlakukan sebagai patokan pengeluaran
per orang, keluarga kami berempat berada jauh di atas angka itu. Jadi, secara
statistik, kami tidak miskin. Tapi tunggu.
Bank Dunia punya penggaris yang berbeda.
Dalam pembaruan terbarunya, Bank Dunia menetapkan tiga garis
kemiskinan internasional berdasarkan 2021 Purchasing Power Parity. US$3 per
orang per hari untuk kemiskinan ekstrem, US$4,20 untuk negara berpendapatan
menengah bawah, dan US$8,30 untuk negara berpendapatan menengah atas.
Untuk Indonesia, Bank Dunia mencatat bahwa 5,4 persen
penduduk berada di bawah garis ekstrem, 19,9 persen di bawah garis LMIC, dan
68,3 persen di bawah garis UMIC. Angkanya bisa membuat orang mengernyit.
Kok bisa berbeda jauh? Bukankah sama-sama bicara kemiskinan?
Ya. Tetapi pertanyaannya berbeda. BPS membutuhkan ukuran
untuk membaca kemiskinan dalam konteks Indonesia, sesuai kebutuhan kebijakan
dalam negeri. Bank Dunia membutuhkan ukuran yang bisa dipakai untuk
membandingkan Indonesia dengan Vietnam, Brasil, atau Afrika Selatan.
Bukan berarti salah satu berbohong dan yang lain benar.
Mereka hanya memakai penggaris yang berbeda untuk tujuan yang berbeda. Masalahnya,
kehidupan kita tetap berjalan meskipun penggaris sedang berganti. Statistik
membutuhkan batas. Kehidupan tidak. Kehidupan memiliki gradasi.
Maka saya sampai pada pertanyaan yang lebih jujur. Kalau
kami tidak miskin, lalu kami ini sebenarnya berada di kelas kehidupan yang
mana?
Saya tidak merasa miskin. Tetapi saya juga tidak merasa
hidup dengan keleluasaan tanpa batas. Masih bisa membeli ayam. Tetapi tidak
berarti setiap hari ayam.
Masih bisa membawa anak makan di luar. Tetapi tidak berarti
restoran menjadi ruang makan keluarga.
Masih bisa membeli barang baru. Tetapi sebelum membayar, ada
suara kecil di kepala, “ini benar-benar perlu?”
Inilah wilayah yang paling sulit dijelaskan dengan satu
kata. Pas-pasan.
Pas-pasan itu jujur. Ia tidak mengemis simpati seperti kata
"miskin", tetapi juga tidak berakting gagah seperti kata
"sejahtera". Ia seperti orang yang masih bisa berjalan tegak, tetapi
tahu persis tidak boleh terpeleset.
Keluarga pas-pasan bukan keluarga yang kelaparan. Bukan pula
keluarga yang bebas membeli apa saja. Mereka hidup di antara kebutuhan dan
keinginan. Di antara cukup dan ingin lebih. Di antara rasa syukur dan kewajiban
untuk tetap berhitung.
Satu pengeluaran tak terduga, mesin cuci rusak, anak demam
tinggi tengah malam, atap bocor di musim hujan, dan seluruh kalkulasi bulanan
bisa berantakan. Bukan hancur. Tetapi cukup untuk membuat istri saya harus
duduk lagi di meja makan dengan ekspresi yang sudah saya hafal di luar kepala.
Dan inilah tesis kecil yang mulai saya percaya. Tidak miskin
belum tentu aman.
Ada jutaan keluarga yang secara statistik baik-baik saja.
Mereka tidak muncul di laporan kemiskinan. Tidak tercatat sebagai sasaran
bantuan. Tidak masuk kategori yang perlu dikhawatirkan.
Tetapi mereka juga tidak punya dana darurat yang cukup untuk
bertahan tiga bulan tanpa penghasilan. Tidak punya asuransi kesehatan swasta.
Tidak punya investasi yang menghasilkan passive income.
Mereka hidup dari satu gaji ke gaji berikutnya. Bukan karena
boros. Tetapi karena memang begitulah matematika kehidupan mereka.
Mungkin inilah kelas sosial yang paling banyak dihuni orang
tetapi paling jarang dibicarakan. Mereka yang tidak miskin, tetapi belum punya
ruang terlalu luas untuk jatuh.
Melihat betapa tipisnya jarak antara "aman" dan
"kelimpungan", apakah saya menjalani hidup dengan dada
berdebar-debar? Sama sekali tidak.
Saya tidak pernah terlalu tertarik bertanya, “bagaimana kalau
besok rezeki saya tidak ada?”
Bukan karena saya yakin semua kebutuhan akan selalu datang
persis seperti yang saya mau. Tetapi karena saya percaya rezeki bukan sesuatu
yang layak dicemaskan setiap detik.
Bagi saya, terlalu lama mencemaskan rezeki terasa seperti
memberi terlalu banyak ruang kepada rasa takut, dan terlalu sedikit ruang
kepercayaan kepada Tuhan.
Ini pandangan pribadi. Bukan aturan yang saya pasang di dahi
orang lain. Saya sepenuhnya paham bahwa ada orang-orang yang menjalani
kecemasan ekonomi bukan karena kurang beriman, tetapi karena kondisi hidup
memang sedang tidak berpihak. Saya tidak sedang menceramahi siapa-siapa. Saya
hanya sedang menerangkan kompas saya sendiri.
Tugas saya bekerja. Tugas saya berusaha. Tugas saya
mengelola apa yang sudah diberikan. Bukan sibuk menerka-nerka apakah besok
Tuhan masih akan memberi.
Tetapi jangan salah. Percaya kepada rezeki bukan tiket untuk
boros. Tuhan mungkin menentukan rezeki. Tetapi kulkas tetap harus diisi.
Tagihan tetap harus dibayar. Anak-anak tetap perlu sekolah. Dan uang tetap
harus tahu jalan pulang.
Di rumah kami, spiritualitas dan kalkulator tidak sedang
bertengkar. Mereka bekerja pada wilayah masing-masing. Hati percaya. Tangan
mengatur.
Saya merasa istilah yang paling manusiawi dalam hidup ini
bukanlah "kaya" atau "sejahtera", melainkan; cukup.
Cukup bukan berarti semua keinginan yang terlintas di kepala
bisa dibeli hari itu juga. Cukup berarti kebutuhan penting masih bisa
ditanggung. Cukup berarti ketika ada masalah datang, keluarga masih punya cara
untuk mencari jalan tanpa harus kehilangan harga diri. Cukup berarti anak-anak
bisa tidur tanpa perlu tahu berapa saldo rekening ayahnya. Cukup berarti istri
pulang dari dinas dalam keadaan lelah, tetapi masih tahu rumah adalah tempat
pulang, bukan ruang sidang audit.
Dan cukup juga berarti saya tidak perlu berpura-pura kaya
hanya karena tidak mau disebut miskin.
Negara butuh angka. Pemerintah butuh kategori. Kebijakan
publik butuh sasaran. Itu semua penting.
Tetapi manusia tidak hidup di dalam tabel. Manusia hidup di
tanggal. Di pasar. Di warung. Di sekolah anak. Di apotek. Di SPBU. Di ruang
tamu. Di dompet. Dan di percakapan kecil antara suami dan istri sebelum tidur.
“Bulan ini cukup?”
“Cukup.”
Lalu kehidupan diteruskan.
Malam itu, setelah anak-anak tidur, saya duduk di teras.
Saya memikirkan berita yang saya edit tadi siang. Tentang
pejabat yang korupsi miliaran. Tentang angka-angka besar yang terasa abstrak.
Lalu saya memikirkan angka-angka kecil di meja makan istri saya. Nota
minimarket. Struk listrik. Kertas study tour yang sudah diberi tanda centang
kecil di pojok kanan atas, artinya; sudah dialokasikan.
Dua dunia. Dua skala. Keduanya nyata.
Jadi, apakah keluarga saya miskin? Ternyata tidak.
Apakah kami kaya? Tidak juga.
Apakah kami selalu merasa aman?
Saya tidak pernah memakai kata itu untuk menggambarkan
kehidupan. Karena hidup memang tidak pernah memberi garansi.
Yang saya tahu, kami bekerja. Kami mengatur. Kami makan.
Kami menyekolahkan anak. Kami sesekali menunda sesuatu yang sebenarnya kami
inginkan. Dan kami tetap berjalan.
Tidak miskin bukan berarti kaya. Dan pas-pasan bukan berarti
gagal. Pas-pasan kadang hanya berarti kita tahu batas.
Besok Varsha tetap berangkat sekolah. Zira besok pagi hampir
pasti akan meminta sesuatu yang tidak ada dalam anggaran. Istri saya akan
berangkat dinas. Saya akan kembali ke redaksi, membaca berita korupsi
berikutnya, dan pulang dengan kepala yang penuh angka-angka besar milik orang
lain.
Kami mungkin tidak punya ruang yang lebar untuk jatuh.
Tetapi malam itu kami masih punya satu hal yang jauh lebih penting, sebuah
rumah yang tidak pernah menanyakan siapa yang paling banyak membawa uang
pulang.
Dan soal rezeki, saya percaya Tuhan sudah punya cara-Nya
sendiri. Tugas saya hanya menghormatinya baik-baik.

Komentar
Posting Komentar