Desil Berapa, Bu? Sebentar, Saya Cek Dulu
Di sebuah warung kopi pinggir jalan, seorang mas-mas ojol bertanya santai sambil mengaduk teh manis.
“Bu, sampeyan masuk desil berapa?”
Tetangganya bengong sebentar. “Desil itu... merek kompor
baru?”
Terdengar seperti kelakar pos ronda. Namun istilah
teknokratis itu belakangan benar-benar menyusup ke obrolan bangku puskesmas,
hingga antrean kantor pos. Warga mendadak sibuk menebak dirinya sedang ditaruh
di rak nomor berapa dalam lemari data negara.
Nyaris tidak ada yang tahu pasti jawabannya.
Yang mereka pahami, salah geser desil bisa berujung
terputusnya bantuan sosial. Kalau bansos berhenti, pos belanja dapur langsung
defisit. Dan kalau urusan dapur sudah terganggu, perdebatannya bukan lagi soal
angka di atas kertas.
Sementara warga meraba nasib di warung kopi, di ruang-ruang
berpendingin udara para teknokrat sedang berbalas angka.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan
nasional per Maret 2026 berada di level 8,07 persen, atau
sekitar 22,93 juta jiwa. Sebuah capaian satu digit yang rapi dalam laporan
resmi.
Namun Bank Dunia, lewat laporan Macro Poverty
Outlook, menyodorkan cermin yang berbeda. Dengan standar negara
berpenghasilan menengah ke atas, 8,30 dollar AS per kapita per
hari berbasis paritas daya beli sekitar 64,2 persen penduduk
Indonesia berada di bawah ambang tersebut.
Delapan persen berhadapan dengan enam puluh empat persen.
Bukan lagi selisih desimal, tetapi bentangan persepsi yang teramat lebar.
Kedua lembaga memang tidak sedang menghitung hal yang sama.
BPS memakai garis kemiskinan absolut berbasis kebutuhan dasar makanan setara
2.100 kilokalori per hari plus kebutuhan nonmakanan. Bank Dunia memakai garis
pembanding daya beli antarnegara.
Anehnya, banyak warga justru merasa angka 64 persen lebih
jujur. Bukan karena mereka mendadak paham paritas daya beli, melainkan karena
angka itu terasa lebih mirip isi dompet mereka setiap akhir bulan.
Di sinilah persoalan sesungguhnya bermula. Negara
mengukur kemiskinan dari kalori. Warga mengalaminya dari kecemasan.
Bertahan pada asupan 2.100 kilokalori memang cukup untuk
lolos dari kategori miskin absolut. Tetapi jelas tidak cukup untuk tenang saat
harga beras naik, tagihan listrik datang, atau uang gedung sekolah anak jatuh
tempo.
Mereka hidup serba pas-pasan. Tidak miskin menurut
statistik, tetapi juga tidak pernah merasa benar-benar aman.
Untuk memilah siapa yang berhak dibantu, negara membagi
warganya ke dalam sepuluh desil. Desil 1 untuk 10 persen paling rentan, hingga
Desil 10 untuk yang paling sejahtera.
Karena mayoritas warga bekerja di sektor informal dan tidak
punya slip gaji, pemerintah memakai Proxy Means Test (PMT).
Kesejahteraan ditebak dari proksi fisik. Jenis dinding rumah, material lantai,
aset elektronik, hingga pendidikan kepala keluarga.
Ini ibarat menebak isi tabungan seseorang lewat lubang
kunci ruang tamu. Kadang tepat, tidak jarang meleset.
Distorsinya kerap terasa mengganggu. Ada keluarga yang
cukup mampu tetap tercatat sebagai penerima bantuan karena tinggal di rumah
warisan yang reyot. Sebaliknya, ada lansia sebatang kara yang tersingkir dari
daftar hanya karena punya televisi tabung bekas pemberian tetangga.
Data melihat benda. Hidup melihat kebutuhan.
Persoalan makin runcing karena guncangan ekonomi datang
seketika, sementara pemutakhiran data administratif berjalan bertahap. Keluarga
Desil 3 atau 4 yang hari ini masih kokoh bisa goyah dalam hitungan hari akibat
PHK atau sakit berat. Sementara verifikasi ulang data bisa memakan waktu
berbulan-bulan.
Ketika ruang fiskal APBN terhimpit, desil pun rentan
berubah peran. Dari alat memetakan kebutuhan, menjadi pagar administratif untuk
memangkas hak bantuan.
Di sinilah letak tesis persoalannya. Desil dirancang
sebagai peta, tetapi kerap dipakai sebagai gunting.
Fokus bantuan bagi Desil 1 dan 2 memang mutlak. Tetapi
membiarkan Desil 3 dan 4 berjalan di titian tanpa jaring pengaman adalah
kalkulasi yang keliru. Sekali mereka tergelincir, biaya sosial dan anggaran
untuk mengangkatnya kembali jauh lebih mahal.
Ada dua pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda.
Pertama, arsitektur data perlindungan sosial harus lebih
dinamis. Basis data Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek) perlu membuka
mekanisme pemutakhiran partisipatif dan saluran sanggah yang mudah diakses
warga di kelurahan atau desa. Musibah tidak menunggu survei nasional.
Kedua, desain bantuan sosial harus berjenjang. Pengalihan
subsidi energi berbasis komoditas menuju bantuan berbasis individu harus
dimanfaatkan untuk memperkuat lapisan tengah.
Desil 1 dan 2 tetap butuh bantalan konsumtif harian.
Sementara Desil 3 dan 4 lebih memerlukan perlindungan produktif. Jaminan sosial
ketenagakerjaan yang terjangkau, proteksi kesehatan yang pasti, serta
pembiayaan mikro yang menjauhkan mereka dari jerat utang berbunga tinggi.
Kelompok rentan ini tidak meminta belas kasihan. Mereka
meminta kepastian.
Di warung kopi tadi, si ibu akhirnya menatap cangkirnya
sambil tersenyum kecut.
“Saya tetap nggak paham desil-desilan. Pokoknya kalau anak
minta jajan dua ribu perak saya masih mikir dua kali, itu namanya masih pusing,
Mas.”
Di hadapan kejujuran sesederhana itu, silat istilah
teknokratis setebal ratusan halaman mendadak kehilangan relevansinya.
Rakyat tidak pernah hidup di dalam lembaran desil. Mereka
hidup di dalam rumah, berdiri di depan kompor, dengan satu pertanyaan yang
berulang setiap hari, besok pagi masih bisa masak atau tidak?



Komentar
Posting Komentar