Masak Dewa ala Kasongan: Bumbu Digeprek, Peradaban Diseduh

Di Kasongan, Katingan, hidangan para dewa tidak lahir dari ritual rumit, melainkan dari kulkas yang nyaris kosong dan keengganan mengulek bumbu.

--- --- ---

Kalau Anda bertamu ke rumah orang kota tanpa memberi kabar, tuan rumah biasanya akan panik. Mereka akan tergopoh-gopoh membuka aplikasi ojek online, lalu meminta Anda menunggu satu jam sambil basa-basi memandangi dinding.

Di Kasongan, Kabupaten Katingan, ceritanya berbeda. Apalagi kalau tuan rumahnya adalah Nirwansyah.

“Masak dewa aja kita,” ucap pria yang akrab saya sapa Neneng, sore itu. Spontan. Tanpa beban.

Terakhir kali saya benar-benar menumpang hidup di kota ini adalah pada medio 2011-2013. Waktu itu saya masih reporter daerah yang luntang-lantung, yang bahkan harus numpang tidur di studio radio tempat Neneng siaran.

Jadi, ini bukan sekadar hubungan tamu dan tuan rumah biasa. Ini hubungan saudara yang pernah susah sama-sama.

Kini, bertahun-tahun kemudian, kota ini sudah bersolek. Namun, mantan penyiar radio yang kini jadi pentolan Himpunan Pemuda Katingan (Hapakat), rupanya menolak berubah. Kehangatannya tetap sama. Dan yang paling penting, isi kulkasnya tetap seadanya.

Neneng membuka pintu kulkas, memandang isinya, lalu berujar, “Kebetulan cuma ada ayam. Kita eksekusi yang ada saja dengan cepat. Masak dewa aja kita.”

Saya mulai curiga. Nama masakannya terdengar jauh lebih agung daripada isi Ketika mendengar kata “Masak Dewa”, Anda mungkin membayangkan ritual kuliner yang rumit. Kaldu direbus delapan belas jam. Rempah dipetik gadis perawan saat purnama. Kenyataannya jauh dari itu.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana jari-jari Neneng dengan cekatan menaklukkan daging ayam. Tidak ada cobek. Tidak ada ulekan. Tidak ada food processor estetik yang lebih siap masuk Instagram daripada masuk dapur.

Ia hanya mengambil kunyit, jahe, serai, dan lengkuas. Rempah-rempah segar itu diiris kasar lalu digeprek. Prak! Hancur sudah.

Rempah yang sudah babak belur itu langsung dicemplungkan ke kuali berisi air melimpah. Tidak ditumis. Tidak pakai minyak. Tidak ada drama. Langsung cemplung.

Tak lama, asap mengepul. Aroma wangi rempah seketika memenuhi ruangan, menyamar menjadi pendingin alami bagi udara Katingan yang biasanya membuat keringat sebiji jagung.

“Bagi kami warga Kasongan, Masak Dewa ini sebenarnya bukan nama satu resep mati,” jelas Neneng. Suaranya renyah, sisa-sisa wibawa seorang penyiar radio masih kental terdengar. Tangannya sibuk membesarkan api kompor.

“Ini adalah konsep penyajian yang serbapraktis dan sederhana. Filosofinya hanya tiga. Cemplung-cemplung, cepat jadi, dan kuahnya harus banyak,” tambahnya.

Saya tersenyum. Di kota besar, koki harus sekolah mahal ke Paris untuk belajar teknik minimalist cooking. Di Kasongan, teknik itu sudah ada sejak zaman nenek moyang, lahir murni karena kebutuhan.

Menurut penuturan Neneng, konsep ini umurnya jauh lebih tua dari aspal jalan raya yang kini membelah daratan Katingan. Dulu, kehidupan masyarakat sepenuhnya bertumpu pada sungai. Rumah-rumah berwujud panggung, atau terapung di pinggir air sebagai rumah lanting.

Orang tidak perlu ke pasar untuk membeli lauk. Mereka cukup keluar pintu, menancapkan banjur (alat pancing bambu sederhana), dengan umpan seadanya. Tak lama, ikan seperti jelawat, nila, atau ikan mas menyambar.

“Karena ikannya baru diangkat dari sungai, ia masih sangat segar. Masaknya tidak perlu rumit, tidak perlu banyak bumbu buatan, supaya rasa asli manis ikannya terjaga,” lanjut Neneng. “Dari kesederhanaan yang jenius itulah konsep Masak Dewa ini lahir.”

Mendengar itu, saya tersadar akan satu ironi. Hari ini, kita cenderung memasukkan belasan jenis saus dan penyedap. Bukan untuk memperkaya rasa, justru rasa asli dari bahan masakan nyaris hilang.

Masak Dewa adalah antitesis dari itu. Ia adalah perayaan atas kejujuran bahan makanan.

Namun, urusannya ternyata bukan hanya soal perut. Menurut Neneng, Masak Dewa adalah teknologi sosial masyarakat Katingan.

Menu kuah melimpah ini diciptakan karena ia memiliki fungsi komunal. Ini adalah menu wajib dalam tradisi handep alias gotong royong. Coba bayangkan puluhan pria dewasa yang lapar setelah seharian menugal (menanam benih padi), ketam (panen raya), atau bahu-membahu memikul dan memindahkan sebuah rumah kayu yang utuh.

Anda tidak mungkin menjamu mereka dengan porsi makanan fine dining yang ikannya seukuran ibu jari dengan coretan saus seperti lukisan abstrak. Anda butuh kuali raksasa, kuah yang banjir, dan rasa yang menghangatkan tulang. Masak Dewa adalah jawabannya.

Hebatnya lagi, hidangan ini punya lisensi spiritual.

Dalam penuturan Neneng, pada tradisi Hindu Kaharingan, hidangan ini sering disajikan saat acara Sangiang (ritual penyembuhan) atau saat pemenuhan nazar. Syaratnya, makanannya harus murni, bersih, dan tanpa minyak berlebih. Para dewa di Katingan rupanya sangat peduli pada kesehatan dan anti-kolesterol.

Semua itu demi menjaga semangat Huma Betang dan hidup yang Belum Behadat. Hidup harus tahu tata krama, tahu cara memuliakan sesama, dan memuliakan alam.

Hanya butuh waktu belasan menit, Masak Dewa Ayam itu siap disantap. Tak ada piring hias. Tak ada tata letak instagramable. Cukup ditemani nasi putih yang asapnya masih mengepul dan sambal seadanya.

Saya menelan ludah. Sendok pertama menyentuh lidah. Kaldu ayamnya gurih, murni, dan menyegarkan. Bumbu rempah yang tadi digeprek kasar berpadu sempurna. Kehadiran rempahnya seperti teman lama. Tidak perlu banyak bicara, tapi kehadirannya sudah cukup.

Kami makan sambil mengobrol gayeng. Tertawa mengingat masa lalu yang absurd.

Malam itu, kami menuntaskan santapan hingga dasar piring tak bersisa. Ada kehangatan aneh yang menjalar ke seluruh tubuh. Bukan hanya karena efek rempahnya, tapi karena sesuatu yang sulit dijelaskan.

Bagi seorang perantau, jamuan seperti ini punya arti yang sulit dijelaskan dengan ukuran keramahan biasa. Di dunia modern, menyajikan makanan "seadanya" kepada tamu yang datang sering dianggap sebagai tanda kurangnya penghormatan. Kita diajari untuk selalu tampil sempurna, menyajikan yang paling mahal, meski harus berutang.

Tapi di rumah Neneng, logika itu terbalik. Menyajikan Masak Dewa yang bumbunya hanya digeprek lima menit kepada kawan lama bukanlah tanda kurangnya persiapan. Itu justru simbol kedekatan tertinggi. Tidak ada lagi sekat. Tidak ada lagi basa-basi birokratis antar-manusia. Kau adalah keluarga, dan keluarga makan apa yang ada di kulkas.

Lanskap Kasongan mungkin sudah banyak dirombak oleh zaman. Bangunan baru bermunculan, aspal makin mulus. Namun, tata nilai manusianya menolak usang.

Saya seorang perantau. Saya sudah makan di banyak tempat, dari warung tenda sampai restoran yang piringnya lebih besar dari porsi makanannya.

Tapi malam itu, lewat sepiring Masak Dewa Ayam yang kuahnya melimpah dan bumbunya tidak diulek, saya tahu satu hal; di tanah Katingan ini, saya punya keluarga.

Dan mereka tidak butuh blender untuk membuktikannya.

Komentar

Postingan Populer