Di Balik Lanyard Jaksel dan Sepiring Geprek Murah
![]() |
| Karyawan di kawasan SCBD, Jaksel. |
Rutenya memutar bukan main. Dari Palangka Raya terbang ke
Jogja karena Gunung Anak Krakatau sedang batuk-batuk dan langit Selat Sunda
ditutup. Dari Jogja mlipir ke stasiun, naik kereta ke Gambir. Perjalanan yang
cukup panjang untuk membuat tulang punggung mengajukan surat pengunduran diri.
Lelah? Jangan ditanya.
Tapi sore ini, di gazebo belakang rumah, balas dendam sudah
tersaji.
Helmi duduk di pojok. Rangga di sebelahnya. Rangga, rekan
sesama redaktur di kantor, punya bakat yang tak pernah tercantum di kartu
identitas: menagih oleh-oleh tanpa terlihat seperti menagih.
Belum sempat kopi saya habis seteguk, matanya sudah menyapu
dari kepala sampai sandal. Seperti petugas bea cukai menemukan penumpang pulang
dari luar negeri dengan koper terlalu ringan.
“Dari Kalteng jangan bilang cuma bawa cerita, ya. Minimal
ada oleh-oleh yang bisa dimakan. Katanya lewat Jogja juga. Sempat mampir
Malioboro?” katanya sambil nyengir.
Saya tersenyum. Sulit menjelaskan bahwa perjalanan saya
bukan tur wisata.
“Malioboro apanya? Saya mampirnya ke stasiun. Itu pun balap
lari. Kalau ada yang sempat foto saya di Jogja, paling hasilnya blur,” jawab
saya.
Rangga tertawa. Helmi ikut terkekeh. Lanyard perusahaannya
masih menggantung di leher—benda berwarna cerah yang, bagi orang kampungnya di
Demak, menjadi tanda anak rantau ini sudah “jadi orang”.
Dari situlah obrolan berbelok. Awalnya soal perjalanan,
oleh-oleh, dan kantor. Entah bagaimana, pembicaraan sampai pada kisah hidup
Helmi.
Kami mendengarkan sambil sesekali tertawa. Gazebo itu
mendadak seperti ruang kecil tempat orang-orang dewasa membuka arsip hidupnya
sendiri.
Helmi orang Demak. Daerah pinggiran, katanya, saat pertama
kami kenalan di Semarang. Waktu itu kami sama-sama ngekos dekat kampus UNNES.
Bedanya, Helmi baru masuk kuliah ketika saya sudah duduk di semester akhir.
Dulu, katanya, cita-citanya sederhana. “Jadi orang sukses di
Jakarta.”
Sekarang dia memang di Jakarta. Jakarta Selatan, tepatnya.
Bekerja di sebuah startup.
Di mata keluarga dan kerabat di kampung, Helmi sudah naik
kasta. Sarjana merantau, berangkat kerja membawa kopi susu, duduk di depan
laptop, bicara separuh Indonesia separuh Inggris. Which is, literally, true.
“Enak yo, saiki kerjo nang Jakarta tur kerjone nang kantor.
Mesti gajine gede,” kata Helmi menirukan seorang kerabat saat Lebaran.
Helmi hanya tersenyum. Mengamini. Bukan karena benar, tetapi
karena menjelaskan kenyataannya akan memakan waktu lebih lama daripada durasi
silaturahmi.
Faktanya begini: lanyard startup Jaksel bukan sertifikat
kesejahteraan. Ia cuma kartu akses pintu kantor. Tidak lebih.
Ada satu spesies startup yang belakangan menjamur di Jakarta
Selatan. Bukan unicorn, bukan decacorn. Lebih tepat disebut survival-corn.
Doktrinnya sederhana. Waktu adalah uang. Maka keduanya harus
siap diperas.
Ritme kerja lebih cepat dari Whoosh. Multitasking bukan
nilai tambah, melainkan syarat hidup. Gelar sarjana tidak selalu dinilai dari
tebal skripsi, tetapi dari kecepatan membalas chat dan menyelesaikan revisi.
Target datang bertubi-tubi. Perubahan datang tanpa undangan.
Dan gaji?
Datang sebulan sekali, mampir sebentar, lalu pamit. Setelah
dipotong sana-sini, nominalnya bahkan tidak menyentuh angka UMP DKI Jakarta. Ya.
Di bawah UMP. Di Jakarta Selatan.
Lalu bagaimana pekerja startup Jaksel dengan gaji seperti
itu bertahan?
Jawabannya, ayam geprek murah.
Itu bukan istilah saya. Helmi dan teman-teman kantornya
benar-benar menyebutnya begitu. Ayam geprek sepuluh ribuan menjadi fondasi
ketahanan pangan mereka.
Makan siang di restoran estetik? Jangan. Fine dining?
Fiksi.
Puncak kemewahan Helmi adalah ketika sedang merasa sedikit
“have”, lalu memesan martabak manis atau cokelat kekinian memakai promo
aplikasi. Itulah healing-nya. Yang masih masuk akal bagi saldo.
Gaya hidupnya juga jauh dari bayangan orang kampung. Helmi
jalan kaki ke kantor. Bukan karena aktivis lingkungan. Dompetnya hanya butuh
bernapas.
Trotoar Jaksel pun bukan karpet merah. Motor yang kehilangan
kesabaran sesekali ikut memakai jalur. Debu dan knalpot menjadi sarapan kedua.
Sampai kantor, kemeja kusut, wajah berkeringat, rambut
berantakan. Lima belas menit di depan AC diperlukan sebelum senyum profesional
kembali terpasang.
Namun bagian paling mengiris bukan ayam geprek atau trotoar
berdebu. Melainkan akhir bulan.
Sebagai anak rantau bergelar sarjana yang bekerja di
“perusahaan Jaksel”, ekspektasi keluarga ikut meninggi. Ada anggapan yang tak
pernah diucapkan: Helmi sudah mapan. Setiap bulan semestinya ada jutaan rupiah
mengalir ke rekening orang tua.
Realitasnya, menyisihkan beberapa ratus ribu saja kadang
terasa seperti keajaiban finansial.
Gaji datang lalu berpindah tangan. Kontrakan, makan,
transportasi, pulsa, dan tetek-bengek hidup di kota ini sudah menunggu.
“Sesekali muncul rasa bersalah,” kata Helmi sore itu. “Sudah
kuliah, dapat gelar, ke Jakarta. Tapi belum bisa jadi anak yang diandalkan
secara finansial.”
Hal seperti itu tak mungkin diceritakan saat Lebaran. Lebih
mudah tersenyum ketika kerabat mengira gajinya besar daripada menjelaskan bahwa
sebagian besar pendapatan habis hanya untuk bertahan hidup di kota ini.
Helmi tak menyangkal. Startup memberinya banyak pelajaran.
Cekatan, terbiasa multitasking, tahan tekanan. Ia dan teman-temannya
menyebutnya kawah candradimuka. Setara S3 Jurusan Bertahan Hidup, hanya tanpa
gelar tambahan.
Tapi ia mulai curiga. Jangan-jangan “kawah candradimuka”
kadang cuma cara agar penderitaan pekerja terdengar lebih gagah. Seperti
memberi medali kepada orang yang sedang tenggelam.
Obrolan di gazebo mereda. Rangga sudah berhenti menagih
oleh-oleh dan sibuk dengan gorengan. Langit Jakarta mulai jingga, warna yang
cantik kalau Anda sedang tidak memikirkan tagihan.
Helmi menyesap kopi terakhir. Lanyard masih menggantung di
lehernya.
Ia mengatakan, kalau nanti ada saudara bertanya lagi apakah
gajinya besar setelah bekerja di startup Jaksel, ia sudah menyiapkan jawaban.
“Besar, kok.”
Jeda.
“Besar keinginan saya untuk segera naik gaji.”
Kami tertawa. Tipis saja. Ada bagian dari cerita itu yang
terlalu nyata untuk ditertawakan lebar-lebar.
Dan saya, yang baru saja menempuh perjalanan memutar dari
Kalimantan lewat Jogja demi sampai di kota ini, tiba-tiba merasa sangat paham.
Jakarta memang menjanjikan banyak hal. Hanya saja,
kesejahteraan sering datang paling belakangan.
Lanyard di leher Helmi berwarna cerah. Saldo rekeningnya
tidak.



Komentar
Posting Komentar