Mari Evaluasi Budaya Penelitian Mahasiswa

Jumat, 12 April 20130 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Minat penelitian mahasiswa di Kalimantan masih rendah

Mau tak mau, diakui maupun tidak dan meski pernyataanku kali ini akan membuat telinga beberapa kalangan panas, namun ini harus ku katakan bahwa secara garis besar minat penelitian mahasiswa di Kalimantan Tengah masih minim. Paling tidak, hal senada juga diungkapkan salah seorang kawan aktivis dari Orangutan Foundation United Kingdom (OFUK).

Dalam salah satu program yang pernah diadakan NGO negri ratu Elisabeth, dimana saat itu mereka menawarkan beasiswa dalam sebuah paket penelitian bagi mahasiswa lokal (Kalimantan), alhasil peluang ini sepi peminat. Ironis lagi, hingga batas akhir penutupan tak ada satupun mahasiswa yang mendaftar. "Padahal, saat itu beasiswa penelitian diprioritaskan bagi tiga mahasiswa lokal Kalteng," ungkap Manager Stasiun Penelitian Pondok Ambung OFUK, Arif Nugroho.

Akhirnya, peluang emas bagi mahasiswa lokal ini semuanya ditangkap oleh para Mahasiswa dari luar daerah, dan beruntung saat itu proposalku tembus. Selain diriku yang berasal dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) ada dua lagi mahasiswa asal Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Bahkan, ketika kami kembali menawarkan sharing kepada mereka (mahasiswa lokal), tak satupun mahasiswa Kalimantan tertarik. "Sungguh memperihatinkan komunitas pendidikan tinggi di sini," anggapku saat itu.

Dalam sebuah kesempatan aku berbincang kembali dengan Arif, “Kenapa mahasiswa lokal diprioritaskan?”  Tanyaku. Setelah menenggak secangkir kopi, Arif menjelaskan, hal ini karena objek penelitiannya berkaitan dengan aksi Badan Koordinasi Pengelolaan Cagar Biosfer Tanjung Puting. OFUK bersama Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) berkomitmen mendorong berkembangnya penelitian dan keilmuan di Indonesia. Salah satunya melalui program beasiswa penelitian.

Tentu saja hal yang demikian ini menimbulkan banyak argumen, mengapa mahasiswa lokal tak menangkap peluang itu? Salah satu kawan dari Jakarta, Si Vicky mengatakan,  boleh jadi tradisi penelitian mereka belum berkembang baik. Tentu saja ini merupakan argumen aman, untuk mengatakan, tak berkembang. Bukan belum berkembang.

Soalnya, dari data yang ku peroleh, ternyata siswa (bukan mahasiswa perguruan tinggi) di wilayah ini sebenarnya sudah akrab dengan dunia penelitian. Yang terbaru, event internasional Asia Pacific Conference of Young Scientists (APCYS) 2012 yang diikuti 12 negara, di Palangkaraya, awal September lalu, menggembirakan. Andre Pratama, Siswa SMAN 1 Sampit meraih nilai tertinggi dibidang environmental science.

Dengan penelitiannya “Liquid smoke as a rubber coagulant agent” mengupas cara menghilangkan bau dari hasil produksi karet dengan memanfaatkan limbah tempurung kelapa sawit. Dan tentu saja hal-hal revoluseoner serupa yang diharapkan juga di pendidikan tinggi saat ini.

Karena tantangan OFUK dan TNTP tak ditangkap mahasiswa lokal ini patut disayangkan. Pasalnya, tema penelitiannya dekat dengan problematika lingkungan di Kalteng; Tanjung Puting.

Itu artinya, isu Tanjung Puting sebagai taman nasional sekaligus cagar biosfer menarik perhatian kalangan internasional. Mestinya, penelitian bagi perkembangan ilmu pengetahuan untuk kelestarian Tanjung Puting dan status cagar biosfer, tak dilewatkan mahasiswa Kalimantan begitu saja.
Share this article :

Posting Komentar

Followers My Blog

 
Support : Creating Website | Fahruddin Fitriya SH | Kecoak Elektronik
Copyright © 2012. PENA FITRIYA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Vitrah Nusantara
Proudly powered by Blogger