Bisnis Esek Esek di Era Digital

Selasa, 16 April 20130 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Ilustrasi

Bisnis esek-esek dalam kurung prostitusi kini sudah menjadi lahan menggiurkan bagi orang yang ingin mendapatkan uang cepat, seiring dengan perkembangan zaman merebaknya bisnis ini semakin berevolusi lebih sistemik dan modern, apalagi ditunjang dengan semakin mudahnya orang yang memiliki kelebihan syahwat menggunakan kocek dan fasilitas yang ada untuk bisa mendapatkannya.

Melalui akses jaringan telekomunikasi, internet bahkan handphone dan media massa orang pun dimanjakan untuk memilih sendiri sesuai dengan keinginannya, mau pilih yang model dari kelas bawah, menengah dan kelas premium pun bisa didapatkan.

Pengalaman ini kusaksikan sendiri beberapa saat lalu ketika kami mendapat undangan rapar koordinasi di sebuah kota. Seorang kawan dengan mudahnya memilih dan memesan teman tidur semalam ini hanya menggunakan blackberry messenger (BBM), disitu dirinya memiliki keleluasaan memilih dan barang tentu menyesuaikan isi kantongnya.

Sebuah transaksi yang mudah, tawar menawar dengan para germo begitu simpel dan sederhana dengan privacy tingkat tinggi, karena sampai saat ini Negara kita belum mampu melakukan penyadapan konten-konten BBM.

Dari enjelasan seorang kawan inilah aku beru menyadari, ternyata di setiap kota bisnis lender ini memiliki cirri masing-masing, misalnya di kota X, mereka bisa menggunakan jejaring sosial sejenis twitter, di kota Y menggunakan facebook dan lain lain dan sebagaina dan sebagainya. Tentu saja hal ini akan lebih memanjakan para penikmat bisnis syahwat dan memudahkan para jaringan bisnis tersebut.

Dengan technology yang maju ini, bagi mereka yang menginginkan tidak perlu susah-susah untuk datang ke lokalisasi atau harus berkeluyuran di daerah prostitusi, dengan bermodalkan blackberry messenger dan mengetahui pin germo bisa memesan secara langsung sekaligus diantar, ibarat “delivery food” begitupun yang memiliki akun twitter dan facebook para pekerja seks ini.

Ternyata bagi sebagian kalangan, pesatnya perkembangan teknologi dan informasi tidak dimanfaatkan secara positif, dari sebagian penyelewengan, mungkin inilah salah satu penyelewengan dari media komunikasi di era serba digital seperti hari ini.

Dan ku rasa, ini pula yang menjadi pemicu maraknya prostitusi dan trafficking. Dengan lemehnya pengawasan dan penegakan hukum yang berlaku di Indonesia, sering dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk kembali melakukan tindakan kejahatan sehingga tidak menimbulkan efek jera.

Masalah bisnis adalah masalah keuntungan, profit dan gaya hidup sebagian masyarakat  yang hedonis, aktivitas kerja yang tinggi dan tingkat kejenuhan membuat sebagian orang yang memiliki kelebihan syahwat lebih senang untuk berhubungan seks bebas dan menjadikannya sebagai penghilang stress sesaat.

Penyelewengan kelebihan syahwat seharusnya bisa dicegah dengan selalu mengedepankan akibat dan kerusakan yang ditimbulkannya. Tinjauan secara etika dan norma-norma agama serta sosial jelas tidak melegalkan akan perbuatan tersebut karena malah menjatuhkan seseorang tadi kepada jurang kerusakan.

Bagi para penikmat seks bebas dan gaya hidup modern mungkin dalam jangka waktu pendek tidak menyadari bahwa gejolak kelebihan syahwat yang tidak terkendali itu bisa menjerumuskan dia dalam kenistaan yang nyata, tentu saja dengan ganjaran penyakit bagi para pelakukanya.

Sementara, dari sisi hukum sendiri ternyata masih lemah. Ganjaran pidana yang diberlakukan kurang memberikan efek jera, inilah yang menyebabkan bagi para pelaku prostitusi bertindak bebas dengan kemauannya sendiri.

Melihat kasus sekaligus tren prostitusi abad dua satu ini, peran orang tua melalui pengawasan bagi orang tua untuk lebih waspada dan memperhatikan terhadap anak-anak perempuan mereka yang masih muda belia tentu sangat diperlukan, agar tidak terjerumus pada bisnis esek-esek yang dengan murah meriah menggadaikan kehormatan dan harga diri, dimana sebuah kehormatan hanya dihargai dengan beberapa lembar rupiah saja.

Selain itu, hemat penulis, edukasi secara terus menerus bisa dilakukan dengan menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan pengawasan yang ketat secara kondusif, usaha penyadaran akan bahayanya seks bebas serta penyakit yang membahayakan bisa dijadikan senjata ampuh agar tidak melakukan hubungan ini secara mudah. Kita tahu bahwa Bisnis esek-esek bukanlah bisnis yang halal, karena termasuk menjadikan manusia itu kepada jurang kerusakan dan kenistaan yang nyata, dan sudah barang tentu bagi para religius hal ini dapat membawa petaka pada kehidupan selanjutnya. Yuk, kita jaga anak, saudara dan sahabat perempuan kita.

Palangkaraya, 16/4 2013.
Share this article :

Posting Komentar

Followers My Blog

 
Support : Creating Website | Fahruddin Fitriya SH | Kecoak Elektronik
Copyright © 2012. PENA FITRIYA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Vitrah Nusantara
Proudly powered by Blogger