PNS Jangan Jadi “Pengangguran Non Stop” (Kisah PNS Bag II-Selesai)

Jumat, 03 Februari 20120 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Bagi sebagian orang, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah sesuatu yang begitu didamba. Beban kerja yang relatif santai, gaji plus tunjungan yang lumayan, serta jaminan pensiun di hari tua adalah sejumlah alasannya. Singkatnya, bagi mereka yang lebih memilih untuk main aman (safety player) dalam hidup ini, PNS adalah pilihan yang menggiurkan, beban kerja yang ringan, indikator kinerja yang tidak jelas, tidak perlu berpikir inovatif dan kreatif pun tetap mendapatkan besaran gaji yang sesuai dengan golongan dan kepangkatan adalah sejumlah hal yang menjadi pertimbangan kenapa masih banyak orang yang ingin menjadi PNS.

Tidak bisa dipungkiri, saat ini, menjadi birokrat atau PNS masih menjadi primadona, khususnya di daerah. Bahkan, boleh dibilang tingkat ketergantungan angkatan kerja berpendidikan sarjana untuk menjadi PNS masih sangat tinggi. Itu kenapa setiap ada test penerimaan PNS tidak pernah sepi peminat. Anda tentu sering menyaksikan, test penerimaan PNS yang dilangsungkan di gelanggang olah raga (GOR), stadion sepakbola atau tempat-tempat lapang lainnya karena jumlah peserta yang membludak.

Untuk menjadi PNS, sebagian orang terkadang tidak sungkan mengelurkan duit hingga puluhan sampai ratusan juta rupiah agar diangkat sebagai PNS. Dan memang, sudah menjadi rahasia umum selama ini kalau proses rekrutmen PNS, khususnya di daerah, syarat dengan praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Hal ini tentu tidak baik bagi penyelenggaraan birokrasi, karena mereka yang dingkat menjadi PNS pada dasarnya tidak brekompeten untuk megemban amanah sebagai abdi negara. Dan pastinya, kualitas pelayanan publik akan terkorbankan.

Menjadi PNS sejatinya adalah profesi yang sangat mulia. Namanya saja abdi negara. Mereka yang berkecimpung dalam profesi ini idealnya adalah orang-orang pilihan yang siap membaktikan diri kepada bangsa dan negara dengan segenap tenaga dan pikirannya.
Namun sekali lagi sayang, stigma yang dilekatkan kepada PNS selama ini terlanjur lebih banyak negatif ketimbang positifnya. Selama ini, profesi PNS lebih sering dicitrakan dengan malas dan tidak produktif dengan indikator kinerja yang tidak jelas.

Hal ini memang tidak sepenuhnya benar, tetapi sebagian oknum PNS yang jumlahnya tidak sedikit kenyataannya memang seperti itu. Mereka lebih sering keluyuran di jalan atau sekedar makan di warung-warung dengan seragam dinasnya saat jam kerja, datang ke kantor hanya sekedar nongkrong dan baca koran, bahkan terkadang hanya sekedar datang absen di pagi hari lalu raib entah kemana dan baru balik lagi di sore harinya.

Padahal sebagai PNS, mereka telah menerima gaji dan tunjungan yang cukup menguras anggaran negara. Tengok saja anggaran-anggaran daerah, selama ini beban anggaran lebih banyak tersedot untuk membiayai gaji dan tunjangan PNS ketimbang pembangunan infrastruktur. Menurut data badan perencanaan nasional (Bappenas), di kebanyakan daerah, sekitar 70-80 persen dari anggaran hanya untuk belanja rutin dan belanja pegawai. Pada tahun 2011 saja, anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk gaji dan tunjangan PNS mencapai Rp 104,9 triliun, naik 16,9 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 89,7 triliun, dan kabarnya tahun 2012 ini mengalami kenaikan sekitar 10%, tentunya bukan jumlah yang sedikit.

Dari kenyataan diatas seharusnya para PNS bisa menjadi Pelayanan publik yang berkualiatas adalah hal utama yang paling diharapkan oleh masyarakat dari para aparatur negara. Dari sinilih kinerja PNS itu diukur. Jika melihat kinerja, masyarakat memang patut kecewa. Ekspektasi mereka kenyataannya jauh panggang dari api. Para PNS, yang gajinya naik rata-rata 10 persen hampir setiap tahuh dan menghabiskan anggaran negara yang tidak sedikit, kenyataannya belum mampu menyajikan pelayanan publik yang berkualitas.

Asumsi masyarakat mengenai kinerja PNS yang terkesan malas, santai, makan gaji buta, cuma datang absen, dan keluyuran di jalan atau sekedar makan di warung saat jam kerja adalah sejumlah stigma negatif yang selama ini melekat pada diri seorang Pegawai Negeri Sipil, dan mungkinkah ini juga berhubungan dengan laporan pertanggungjawaban beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Kabupaten Barito Timur (Bartim) yang belum mampu diselesaikan sehingga mendapat Opini dari BPK “Disclaimer”? Au ah gelap…
Share this article :

Posting Komentar

Followers My Blog

 
Support : Creating Website | Fahruddin Fitriya SH | Kecoak Elektronik
Copyright © 2012. PENA FITRIYA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Vitrah Nusantara
Proudly powered by Blogger