Napoleon Bonaparte Lebih Takut Sama Wartawan

Rabu, 18 April 20120 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

#Sang penakluk "Napoleon Bonaparte" ternyata lebih takut kepada 10 wartawan daripada 100 divisi tentara musuh.

Karikatur; Reporter
Orang yang pernah menjadi kaisar perancis tersebut pernah menggambarkan karakteristik wartawan, “Wartawan itu cerewet, pengecam, penasihat, pengawas, penguasa, dan guru bangsa. Empat suratkabar musuh lebih aku takuti daripada seribu bayonet” tandasnya.

Kenapa dia bilang wartawan itu cerewet? karena wartawan harus bertanya, menggali informasi sedalam dan sedetil mungkin tentang sebuah peristiwa atau masalah, untuk dilaporkan kepada publik. Peliputan peristiwa pasti butuh wawancara. Untuk wawancara, wartawan ya harus cerewet, tanya terus.

Pengecam, karena wartawan umumnya orang idealis. Secara langsung atau tidak langsung, eksplisit ataupun implisit, wartawan mengecam ketidakberesan, pejabat korup, masyarakat yang tidak disiplin atau tidak taat aturan. Orang idealis senantiasa mengingkan semua berjalan pada relnya, sesuai dengan aturan, dan tidak menyukai berbagai penyimpangan.

Wartawan juga seorang penasihat, karena wartawan menjalankan fungsi mendidik (to educate). Mendidik pembacanya biar taat asas, mengendalikan pemikiran dan sikap mereka lewat tulisan. Tanpa harus terkesan dan terasa menggurui, dengan menyajikan sebuah informasi penting dan menarik, sebenarnya wartawan sedang menjadi penasihat bagi banyak orang (pembaca).

Menjadi pengawas, karena wartawan menjalankan peran sebagai pengawas kinerja pemerintah dan perilaku masyarakat (social control). Wartawan adalah mata dan telinga pembaca/masyarakat. Semua peristiwa penting tidak luput dari pantauan wartawan, baik penting dalam pengertian menyangkut orang penting (public figur, pejabat) maupun menyangkut kepentingan umum.

Dan tanpa kita sadari, Wartawan adalah penguasa, karena wartawan adalah pengendali arus informasi. Wartawan menentukan apa yang penting dan tidak; menentukan apa yang mesti dipikirkan oleh publik, bahkan mampu mengarahkan –langsung atau tidak langsung– bagaimana publik harus menyikapi sebuah masalah. Di sini berjalan agenda media (agenda setting).

Dan yang terakhir, Wartawan adalah Guru Bangsa, seperti penasihat, wartawan mendidik pembacanya dalam berbagai hal. Pesan yang dikandung sebuah informasi yang ditulis wartawan adalah didikan wartawan.

Aksi solidaritas terhadapan kekerasan bagi insan Pers
Tentu, semua karakter itu ada pada diri wartawan profesional, yakni wartawan yang menguasai betul teknik jurnalistik, paham bidang liputannya, dan menaati kode etik. Wartawan yang menjadi pemeras, pencari ”amplop”, atau menyalahgunakan profesinya, jelas bukan wartawan profesional. Sebut saja mereka wartawan gadungan, wartawan bodreks, yang hanya merusak citra insan pers. Ada juga ”wartawan kuda tunggang”, yakni wartawan yang dikendalikan oleh seseorang (pejabat misalnya) dengan bayaran ”amplop”, serta masih banyak lagi istilah-istilah untuk wartawan beraliran sesat.

Wartawan dituntut untuk tetap loyal terhadap publik dan kebenaran. Kebenaran dalam dunia jurnalistik, parameternya adalah ”faktual”, sesuai dengan fakta, data, tidak ada yang dimanipulasi, apa adanya. Dan semoga wartawan di republik ini mampu menjadi wartawan seperti yang digambarkan oleh Sang penakluk.
Share this article :

Posting Komentar

Followers My Blog

 
Support : Creating Website | Fahruddin Fitriya SH | Kecoak Elektronik
Copyright © 2012. PENA FITRIYA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Vitrah Nusantara
Proudly powered by Blogger