Riam Mangkikit; Indah, Ganas Sekaligus Misterius

Minggu, 23 Desember 20120 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Kalimantan Tengah memiliki banyak sungai yang penuh riam. Salah satu sungai yang menantang untuk ditelusuri adalah Sungai Katingan di Kabupaten Katingan. Selain itu riam yag ada di Sungai Katingan ini cukup untuk menciutkan nyali para petualang.

Riam Mangkikit//Riam terbesar di Sungai Katingan
Salah satu alat angkut jalur sungai yang masih menjadi urat nadi di kabupaten Katingan adalah kelotok. Menyusuri sungai di kabupaten berjuluk Penyang Hinje Simpei sungguh menantang. Pasalnya, Sungai yang dilalui tidak hanya mengalir lembut, tetapi memiliki riam yang menciutkan nyali. Cerita tentang perahu kelotok yang gagal melewati riam dan karam bukan isapan jempol. Untungnya, waktu itu saya bersama delapan penumpang perahu berhasil melewati riam-riam Sungai Katingan yang mendebarkan.

Sungai Katingan yang lebarnya lebih dari 200 meter merupakan sungai besar yang memiliki sejumlah anak sungai, di antaranya Sungai Samba, Hiran, Senamang, dan Sungai Mahuk. Tukang perahu kelotok yang saya tumpangi bernama Incek (28), warga Tumbang Samba. Meskipun usianya terbilang muda, kami percaya pada kemampuannya mengendalikan perahu kelotok melintasi riam di Sungai Katingan. Kecepatan perahu kelotok sekitar 60 km/jam dengan kapasitas 20-30 penumpang.

Tujuan pertama kami tentu saja Riam Mangkikit, riam terganas yang ada di Sungai Katingan ini dapat ditempuh dalam satu jam dari Tumbang Samba. Riam Mangkikit merupakan riam pertama dan salah satu riam terbesar ke arah hilir Sungai Katingan dari Tumbang Samba.

Sekitar 30 menit pertama, kondisi Sungai Katingan masih bersahabat. Air sungai berwarna coklat mengalir lembut dan tak beriak, tanda sungainya dalam. Di tepi sungai ada satu-dua perkampungan, selebihnya hutan yang lumayan lebat. Di sepanjang perjalanan juga dapat disaksikan puluhan penambang emas tradisional.

Sayangnya, perjalanan sedikit terhambat. Mesin perahu kelotok yang kami tumpangi terbatuk-batuk, bahkan mati setiap kali Incek menambah kecepatan. Perjalanan menuju riam Mangkikit yang bisa ditempuh satu jam molor jadi 1,5 jam.

Mendekati Riam Mangkikit, perangai sungai mulai berubah. Air tampak beriak dan terdengar suara gemuruh. Batu-batu besar yang mencuat ke permukaan terlihat semakin banyak. Setelah beberapa kali mogok, perahu kelotok kami sampai di Riam Mangkikit. Sambil menunggu mesin perahu diperbaiki, penumpang turun ke Riam Mangkikit.

Riam ini bentuknya seperti sebuah pulau batu di tengah sungai. Batu-batu besar berderet dengan panjang sekitar 200 meter. Air mengalir deras melalui celah-celah batu di permukaan ataupun di dasar sungai.

Setelah kondisi mesin kelotok siap menembus Riam Mangkikit, semua penumpang kembali menaiki perahu. Untuk mengambil ancang-ancang, Incek memutar perahu menjauh, lalu mengarahkan perahu lurus ke arah riam. Perasaan kami cemas melihat kondisi riam yang tampak ganas dan mesin yang tidak prima.

Sebelum mulai memasuki riam, Incek mencelupkan sebelah kaki ke dalam air sungai. Awalnya kami mengira itu untuk mengukur kedalaman dan kekuatan arus, namun ternyata itu merupakan ritual mohon keselamatan yang biasa dilakukan tukang perahu sebelum melewati riam.

Incek menekan gas penuh, suara mesin menderu. Perahu berjalan zig-zag melewati celah batu yang sempit. Tangan Incek membanting kemudi perahu ke kiri dan ke kanan. Bagian depan perahu terangkat ke atas karena melawan arus air di riam.

Selama beberapa menit Incek berjuang melewati riam, sementara semua penumpang duduk tegang. Ketika perahu lolos dari riam, semua penumpang pun lega. Kami lalu menuju sebuah dermaga untuk beristirahat.

Saat istirahat Incek mengatakan, lebih sulit melewati riam ketika sungai surut. Supaya dapat melewati riam, perahu harus diputar dengan tali. Bagian belakang perahu yang lebih berat harus berada di depan.

"Riam Mangkikit merupakan riam yang paling berbahaya. Banyak perahu karam di Riam Mangkikit, bahkan penumpangnya tewas. Penyebabnya mesin tiba-tiba mati atau tali kemudi putus ketika melewati riam," katanya.
Kasongan, 23/12 2012
Share this article :

Posting Komentar

Followers My Blog

 
Support : Creating Website | Fahruddin Fitriya SH | Kecoak Elektronik
Copyright © 2012. PENA FITRIYA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Vitrah Nusantara
Proudly powered by Blogger