Mati Berbudaya

Minggu, 16 Desember 20120 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Pertunjukan debus oleh pemangku adat//

Setelah beberapa hari disibukkan dengan urusan duniawi, mau tak mau urusan dunia maya jadi terbengkalai. Mungkin inilah bukti jika manusia manapun dan apapun jenis bentuknya tetap saja tidak bisa hidup secara multitask, harus ada “pilihan” yang selalu membawa konsekwensi.

Nah, tepatkah kata bernas diatas? lalu bagaimana dengan “kodrat”? jika ada yang bilang hidup adalah pilihan, sepertinya hidup ini terlalu sederhana, karena sudah barang tentu semua manusia akan selalu memilih hidup seperti apa yang diinginkan, berbeda halnya jika hidup ini hanya menjalani kodrat yang sudah digariskan.

Terlepas anda setuju atau tidak, kehidupan ternyata adalah perpaduan dari keduanya, dan keduanya inilah yang menyatu dalam sebuah kehidupan manusia. Jika ada perntanyaan, Pilihan yang menciptakan kodrat atau sebaliknya, sepertinya ini sama halnya dengan mempertanyakan, telor atau ayam yang duluan ada.

Hal sama tapi serupa, juga dirasakan dan dijalani para pelestari budaya yang tersebar diberbagai pelosok Bumi Pertiwi ini. Sadar atau tidak, mereka seolah menjadi gerbang utama dan terakhir dalam hal pelestarian budaya. Yang seakan sudah memliki kodrat untuk memilih melestarikan budaya, sejak masih dalam kandungan.

Terkadang mereka sendiri tidak pernah menyadari dari mana datangnya kodrat dan kapan dirinya memilih untuk menjalaninya. Entahlah, mengapa budaya itu sendiri, harus tetap ada dan dipertahankan hingga saat ini. Jikalau harus mengorbankan banyak tetesan darah serta dibumbui tangis air mata kesedihan, untuk melestarikannya. Karena, dengan atau tanpa adanya budaya, kita tentu masih bisa terus bernapas terlebih hidup.

Lebih mengerikan lagi, hal semacam inilah kesukaan manusia yang tinggal dikota. Melihat puluhan manusia, tanpa ijazah didadani seperti badut, terlihat polos sekaligus bodoh. Yang rela menahan rasa sakit ketika benda tajam dan tumpul, mendarat secara bersamaan dibagian tubuh mereka dalam hitungan detik. Menjadi pemandangan  unik nan berbeda, yang bisa di perbincangkan ketika pulang nanti. Dengan kata lain, membawa buah tangan sebagai bukti pernah berwisata ketempat tersebut.

Ketika rintik hujan membasahi permukaan bumi dan kemudian di iringi dengan suara petir yang menggelegar. Tapi tak tahu dari mana asalnya. Seperti itulah mungkin juga, jerit rintahan tangis para pelestari  budaya, yang rela menyiksa tubuhnya satu persatu dengan penuh penghayatan. Meski mereka tahu, semua itu tak berbalas.

Mungkin inilah jawaban atas “hidup bukan pilihan” karena hidup memang tak selalu seperti apa yang diinginkan, namun juga tak selalu di iringi dengan kata terpaksa. Begitulah potret para pelestari budaya menjalani kodratnya. Bagaimana rasanya menjadi tumpuan budaya, yang tak pernah di elu-elukan oleh siapa pun. Meski secara perlahan tetapi pasti, sudah banyak yang meninggalkan tradisi lelulur yang menyiksa tubuh. Dan satu persatu pula, bertahan melestarikan tradisi lelulur tersebut.

Karena arti dari Pengorbanan adalah bagian kehidupan. Harusnya begitu. Bukanlah sesuatu untuk disesali. Tapi sesuatu untuk didambakan. Seleksi alam, yang akan terus berlangsung, hingga mereka semua mati, dan budaya mengikuti kepergian mereka setelahnya.

HUKUM ALAM; Yang Tua pada saatnya nanti akan mati. Dan begitu pula dengan yang muda, lambat laun pasti akan mati. Entah karena sakit, dibunuh, kecelakaan atau bahkan karena terlalu serius memandang hidup. Seakan menjadi sajian penutup, dari warna dan warni penghantar manusia menuju alam kematian.

KASONGAN, 16/12 2012.
Share this article :

Posting Komentar

Followers My Blog

 
Support : Creating Website | Fahruddin Fitriya SH | Kecoak Elektronik
Copyright © 2012. PENA FITRIYA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Vitrah Nusantara
Proudly powered by Blogger