Jurnalis Adalah Pewarta, Bukan Pembawa Petaka

Kamis, 27 September 20120 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


-Pers- Bahasa gagahnya adalah, sebagai salah satu pilar demokrasi, pers dituntut untuk bisa memberitakan, memberikan dan menyampaikan informasi, dengan tegas, jelas dan sejujurnya. Di bangku kuliah [khususnya yang mengambil komunikasi], hal itu menjadi jargon idealis untuk calon wartawan atau yang memutuskan menjadi wartawan.

Menarik mencermati perkembangan dunia pers sekarang ini, khususnya wartawan-wartawan baru atau calon wartawan yang masih belajar bagaimana mengembangkan diri sebagai seorang jurnalis yang baik dan benar [karena tataran ideal itu sebenarnya nisbi]. Ada banyak teori yang dikembangkan dan dipelajari ketika kita kuliah. Tentang bagaimana seorang jurnalis itu tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang “istimewa” sebenarnya. Sayangnya, dalam perkembangan selanjutnya, jurnalis sekarang tak banyak yang mau belajar mengembangkan diri dan melconcat ke depan dengan tingkat pemahaman yang lebih baik.

Ini pengalaman dan pengamatan riil di lapangan. Menoleh ke masa ketika saya masih menjadi calon jurnalis, beberapa tahun silam. Ada pelatihan yang buat saya ketika itu, seperti -kamp konsentrasi- karena kita tidak boleh keluar, hanya belajar dan belajar bagaimana menulis, menembus narasumber dan menuangkannya dalam sebuah laporan yang menarik. Tulisan bolak-balik direvisi adalah hal biasa, karena memang menyanmpaikan informasi penting tidak boleh gegabah. Cek dan ricek amatlah penting. Saya “disekap” dalam pelatihan yang benar-benar membuat saya seperti dicuci otak, bagaimana susah dan bangganya menjadi jurnalis.

Ketika ditugaskan di lapangan pun, saya tidak dibekali identitas apapun, tapi diminta meyakinkan narasumber,  bahwa saya –dan kami ketika itu— adalah benar-benar jurnalis dari media yang kredibel. Bukan bodreks, atau wartawan “tempo” tempo-tempo terbit, tempo-tempo mati apalagi wartawan CNN (Cuma Nanya Nanya). Dan itulah kenikmatan melakukan sebuah peliputan. Ketika saya dinyatakan “lulus” dari pelatihan, hal itu menjadi sangat berguna dan membantu melihat situasi lapangan. Kita dilatih untuk kritis, tajam, cepat menganalisa. Saya belajar tentang bagaimana melakukan investigasi.

Ketika euphoria kebebasan pers mengucur, apa yang saya bayangkan tentang pelatihan itu berantakan. Bagaimana tidak, semua orang bisa dengan mudahnya menjadi wartawan, menenteng kartu pers dan kemudian meliput dengan semena-mena. Jangan tanya soal kredibilitas dan kemampuan jurnalistik yang mumpuni, itu urutan kesekian.

Salah satu hal “fatal” dan paling menonjol dari wartawan sekarang adalah “ketakutan” bertanya dan mengkritisi sebuah masalah. Cukup mengandalkan press release sedikit wawancara dengan narasumber yang kerapkali hanya menyodorkan recorder, biarkan wartawan lain yang bertanya. Mengutip dari pertanyaan wartawan lain, dikombinasi dengan cloning informasi dari berbagai sumber.  Ada beberapa hal yang bisa saya tangkap dari model-model wartawan seperti itu.  Ini tidak ada di buku, tapi benang merah dari pengalaman dan obrolan tidak resmi dengan jurnalis muda.

  1. Tidak Ada Pelatihan Jurnalistik

Sebenarnya ini tidak mengherankan. Banyak media yang menggenjot berita dengan menampung banyak wartawan yang mau dibayar murah, tapi bisa “ditindas” untuk mencari berita. Jangankan bicara soal pelatihan jurnalistik, teknik menulis yang baik dan benar pun, belum tentu mereka kuasai. Alhasil, kalau kemudian muncul banyak somasi, complain, atau ralat, menjadi hal yang “diwajarkan”.  Masih mending kalau wartawan itu mau belajar sendiri untuk pengembangan karirnya, kalau tidak, yang terjadi adalah munculnya “pemburu berita” semata, bukan “pengolah berita” yang merupakan hasil refleksi, permenungan, dan pengumpulan data primer di lapangan.

  1. Tidak Menguasai Materi, Tapi Tak Mau Belajar

Banyak wartawan yang bukan belajar secara khusus tentang jurnalistik. Di media-media terkemuka, banyak jurnalis yang secara jurusan sebenarnya “agak menyimpang” dari pakem. Bayangkan, latar belakang nuklir, tapi menulis ekonomi. Latar belakang kimia, tapi menulis budaya. Latar belakang kehutanan, tapi menulis hiburan. Bagus kalau mereka mau belajar dan mengenal dunia baru yang mereka masuki, kalau tidak, jadilah -kambing conngek- yang toleh kanan kiri, bengong nggak ngerti apa-apa.

  1. Takut Dibilang Sok Tahu, Cari Muka, Cari Perhatian, Sok Kritis

Wartawan memang harus kritis. Wartawan memang harus sok tahu, tapi didukung dengan argumen kuat dan data akurat. Tidak asal njeplak.  Seolah kritis, tapi kosong juga banyak. Bertanya tapi sebenarnya tidak tahu materi yag ditanyakannya, juga tidak sedikit. Ketika datang ke sebuah acara, seharusnya kita sudah tahu apa yang akan dibahas. Kemudian kita bisa mencari informasi apapun tentang bahasan itu dengan mengolah dari berbagai sumber. Jadi, ketika kita mengritisi, bertanya dengan tajam, kemudian mencari informasi sedetil mungkin, ada banyak hal yag bisa kita gali. Abaikan tudingan mencari muka, cari perhatian atau sok kritis.

  1. Harusnya Mau Terus Belajar

Belajar itu bisa formal dan non formal. Sekarang, secara akademis wartawan adalah sarjana. Kalau sudah sarjana tapi puas dengan kesarjanaannya saja, dia akan berhenti, tidak ada pengembangan diri sama sekali. Belajar itu bisa darimana saja. Belajar dari buku, lingkungan, pelatihan, kursus atau workshop. Keinginan itu harus tumbuh dan membesar. Karena ‘orang besar itu diciptakan oleh dirinya sendiri’ bukan oleh orang lain. Artinya, niat dan kemauan memegang peranan besar.

  1. Berani Bertanya

Bertanya itu belajar! Pameo itu harus ditanamkan matang-matang dalam otak. Jangan pernah takut bertanya, karena ketika bertanya, kamu sedang belajar banyak hal.  Belajar punya keberanian menyampaikan opini atau data atau fakta. Belajar untuk mempelajari materi dengan cepat. Belajar menguasai hal-hal yang sebelumnya kita tidak tahu. Pepatah yang mengatakan, ‘malu bertanya sesat di jalan’ itu benar. Kalau kalian malu bertanya, tidak hanya sesat, mungkin juga terperosok.

---Disclaimer---

Bukan berarti semua wartawan harus demikian. Tapi kalau semua wartawan bisa seperti itu, pasti banyak informasi hebat yang bisa kita sampaikan kepada masyarakat. Sebagai profesi paling “kaya”, wartawan harus rela dan mau berbagi “kekayaan” itu dengan masyarakat. Kalau wartawan hanya untuk dirinya sendiri, mendingan jadi pertapa saja di gua.

“Wartawan luar biasa, menulis berita biasa menjadi berita luar biasa”
Share this article :

Poskan Komentar

Followers My Blog

Google+ Followers

 
Support : Creating Website | Fahruddin Fitriya SH | Kecoak Elektronik
Copyright © 2012. PENA FITRIYA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Vitrah Nusantara
Proudly powered by Blogger