Bukan Bartim Namanya Kalau Listriknya Tak Padam

Rabu, 18 Januari 20120 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Hujatan mengenai pelayanan kelistrikan di tanah Gumi Jari Janang kalalawah (Bahasa Maanyan; Menjadi Jaya Selamanya) yang secara nasional dikenal dengan nama Kabupaten Barito Timur (Bartim) tidak akan pernah basi, pasalnya carut marutnya pelayanan kelistrikan disini sudah terjadi sejak zaman bahula.

Disatu sisi, masyarakat Bartim memimpikan pelayanan listrik yang layak, tetapi oleh pengelola, Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang sering dipelintir oleh sebagian besar masyarakat menjadi “Perusahaan Lilin Negara” seperti jauh api dari panggang, pemadaman kerap terjadi, arus listrik tidak stabil sehingga sering berakibat kerusakan pada alat-alat elektronik, bahkan listrik padam sangat identik dengan kabupaten Bartim.
Selain itu masyarakat disini sudah teramat muak dengan berbagai alasan yang dirilis oleh pihak pengelola yang beralasan kesalahan teknis dan semacamnya, misalnya jika memasuki musim penghujan PLN beralasan saluran/instalasi tertimpa pohon sehingga pihak PLN terpaksa memadamkan listrik disekitar area, dilain musim seperti kemarau mereka beralasan jika air pendingin mesin kering dan masih banyak lagi kesalahan-kesalahan teknik seperti meledaknya trafo dan semacamya.


Sebelumnya saya minta maaf kepada para pemuja Dahlan Iskan, ketika beliau masih menjabat sebagai CEO PLN pernah mengeluarkan rilis yang menyebutkan Lombok Timur adalah pemecah rekor gangguan jaringan terbanyak seluruh Indonesia, dengan rekor gangguan 71 kali selama sebulan dengan rata-rata listrik padam 2 kali sehari, beliau menambahkan, tidak ada yang gangguan jaringannya separah Lombok Timur, saya tegaskan itu salah besar, karena kenyataannya kabupaten Bartim lebih parah dari yang di alami Lombok Timur, disini listrik padam bisa 3-4 kali sehari dengan alibi gangguan jaringan, hitung saja berapa kali setiap bulannya.

Alasan-alasan ini sudah sering dibantah oleh sebagian masyarakat, menurut mereka seharusnya PLN memperhitungkan itu semua, PLN seharusnya mampu mengukur kemampuan kekuatan jaringan yang dimilikinya, di samping itu, PLN juga harus pasti menghitung berapa kebutuhan kelistrikan di wilayahnya, “Bukannya petugas PLN itu banyak yang diambil dari ahli-ahli teknik, bagaimana mungkin kesalahan kesalahan tersebut belum diperhitungkan sebelumnya,” ungkap salah satu warga Tamiang Layang.

Jika dipikir dengan nalar sehat bantahan tersebut memang masuk akal, kalau kejadian padam listrik itu sekali dua kali saja dalam sebulan masih bisa di tolerir, tetapi yang terjadi disini hampir setiap hari lampu padam dengan durasi berjam-jam. Selain itu alasan menurunnya voltase juga belum dapat dijelaskan oleh pihak PLN, padahal ketidak stabilan inilah yang kerap kali menyebabkan rusaknya peralatan elektronik.

Yang paling memprihatinkan adalah kondisi para pelajar disini, seringnya pemadaman di jam-jam belajar sangat mengganggu kegiatan belajar mereka, tidak jarang mereka belajar menggunakan penerangan seadanya, “Jika menggunakan lampu seadanya, kami kesulitan belajar, seperti membaca dan menulis karena tidak  tampak jelas,” ungkap salah satu siswa yang mengalami kesulitan saat belajar, dan masih banyak lagi siswa-siswi di wilayah Bartim yang bernasib sama

Dipihak lain, para pedagangpun merasa dirugikan dengan kejadian tersebut karena dengan padamnya listrik mereka sering kali menutup warung/tempat usahanya sebelum waktunya, “Kalau setiap hari kami harus menebus solar atau bensin untuk menghidupkan genset jelas kami akan merugi, selain itu harga genset untuk keperluan tempat usaha kan tak murah,” keluh salah satu pedagang di bilangan Nansarunai Tamiang Layang.

Beberapa waktu lalu masyarakat pernah mendapat angin surga karena adanya rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di desa Jaweten, kecamatan Dusun Timur oleh salah satu Perusahaan Besar Swasta (PBS) yang bergerak dibidang pertambangan, kemungkinan besar ini sebagai wujud balas budi kepada masyarakat lokal karena selama ini perusahaan tersebut sudah menguras ribuan atau bahkan jutaan ton metrik batubara dengan keuntungan yang tidak memungkinkan terhitung dengan kalkulator yang saya miliki.

Namun hembusan angin surga tersebut sedikit demi sedikit memudar, pasalnya janji dapat mengoperasikan PLTU pada angka keramat, 11-11-11-11-11 (Tanggal 11 November tahun 2011 pukul 11.11, red) gagal total. Bahkan sampai saat ini proyek tersebut masih berlangsung tanpa kepastian, memang mereka sempat menjajikan kembali kepada masyarakat mei mendatang dapat beroperasi, tetapi karena terlanjur kecewa masyarakatpun mulai jengah dengan janji tersebut, yang lebih menyedihkan sebelum adanya kabar yang beredar ke masyarakat beberapa politisi telah mempolitisir proyek tersebut, “Nanti jika kami terpilih, akan kami bangunkan PLTU,” ungkap salah satu warga bartim menirukan celoteh sang politisi.

Dari pihak pribadi, saya sebagai kuli tinta merasa disulitkan dengan kondisi semacam ini, bagaimana tidak, setiap harinya saya dituntut untuk mengirim lima sampai enam berita ke redaksi, baru ngetik 3 berita tahu-tahunya listrik padam, mencoba menghidupkan komputer dengan genset tegangan tidak lebih baik dari listrik yang dialirkan oleh PLN, otomatis tuh komputer restart sendiri dan sudah dapat dipastikan komputer tidak akan bertahan lama, jika diistilahkan, kami disini seperti jatuh, ketimpa tiang listrik pula. 
Share this article :

Posting Komentar

Followers My Blog

 
Support : Creating Website | Fahruddin Fitriya SH | Kecoak Elektronik
Copyright © 2012. PENA FITRIYA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Vitrah Nusantara
Proudly powered by Blogger