“Jembatan Gantung” (Ulin bag. 2-Selesai)

Sabtu, 28 Januari 20120 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Pulau kalimantan dan sungai merupakan dua bagian yang tak terpisahkan, kondisi wilayah yang begitu luas penuh hutan lebat dengan jumlah penduduk sedikit, membuat infrastruktur jalan raya bisa dibilang kurang. Membangun jalan raya membutuhkan biaya tinggi sementara disana teramat banyak sungai besar dan panjang sampai ratusan kilometer, akibatnya perahu klotok merupakan alternatif transportasi yang murah bagi masyarakat setempat, bahkan industri perkayuan dan pertambangan pun lebih banyak menggantungkan diri kepada transportasi air (via sungai) dibanding jalan hauling.

Sebagian besar pusat kota di Kalimantan berada di tepian sungai besar, misalnya Samarinda dengan sungai Mahakamnya, Banjarmasin dengan sungai Barito dan Martapura, Pontianak dengan sungai Kapuas serta Palangkaraya dengan sungai Kahayan. Hanya Balikpapan yang tidak memiliki sungai besar. Namun tetap saja dekat pantai sehingga transportasi air tetap dominan.

Hidup di daerah yang berair mungkin akan ribet, kalo saja bumi Dayak ini tidak menyediakan kayu ulin. Sejenis kayu yang tahan terendam air sampai berpuluh tahun tanpa keropos. Bisa dilihat di berbagai daerah penjuru Kalimantan, dimana rumah panggung dengan tiang kayu ulin menjadi pemandangan umum. Biar kata rumah tembok berlantai keramik, tetap saja dibangun diatas panggung kayu di atas payau atau rawa. Alasan utamanya, membuat rumah panggung biayanya lebih murah dibanding harus mengurug genangan untuk pondasi rumah.

Dengan banyaknya sungai di pulau Kalimantan, konsekuensinya jadi banyak jembatan besar dan panjang melintas di atas sungai. Yang paling menarik perhatianku adalah jembatan gantung. Apalagi jembatan gantung di daerah pedalaman, kesannya lebih eksotis dibanding jembatan bailey atau konstruksi beton. Kalo yang agak kotaan dikit biasanya pakai bentangan kawat baja. Yang agak ke pinggiran masih ada yang pakai tali kapal berlantai papan.

Meskipun aku suka dengan eksotisme jembatan gantung, tetap saja aku pernah bermasalah sengannya. Suatu saat, seorang teman mengajakku hang out keluar dari peradaban untuk sekedar melepas penat dan tekanan kerja, dari perjalanan tanpa tujuan tersebut kami jumpai sebuah jembatan gantung, Jembatannya memang sudah parah apalagi Letaknya juga di tengah hutan yang tentunya sangat jarang dilewati sehingga pemeliharaan dari warga setempat sangat minim. Sebelumnya kami memang sempat diingatkan warga sekitar untuk tidak melintas menggunakan kendaraan. Dasar nekat tetap saja aku lewat. Waktu berangkat memang lancar walau harus sport jantung mendengar suara kayunya berderak-derak. Saat pulangnya itu yang hampir celaka karena jembatan runtuh. Untung runtuhnya pelan-pelan dan posisi kendaraan sudah mendekati ujung jembatan. Sehingga masih bisa tancap gas dan ngga harus nyebur ke sungai.

Kasus berikutnya memang tidak pakai acara jantung copot, tapi malah lebih nyebelin walau yang bikin mangkel (jengkal) bukan jembatannya, saat kedatangan tamu dari Jakarta seorang teman bercerita mengenai eksotika pulau Kalimantan, salah satunya mengenai jembatan gantung ditengah hutan yang beberapa waktu lalu kami lintasi, tanpa banyak cing cong esoknya dia memaksa kami untuk menemaninya menyaksikan karya warga lokal tersebut, yang bikin kami terbengong-bengong adalah dandanan si nona Jakarta tersebut, bukannya berkostum bak penjelajah melainkan berpakaian sok feminim lengkap dengan rok pendek, emang sih lumayan buat pemandangan, namun amal gairah mata usil ternyata membawa karma buruk karena sepulang dari berwisata alam kendaraan kami mogok di tengah jalan.

Karena harus berprinsip lady’s first, keputusan aku serahkan ke Dia, Setelah mikir panjang antara jalan kaki 5 kilometer menuju kampung terdekat atau nunggu kendaraan diperbaiki selama berjam-jam berbonus dikerubut nyamuk hutan, akhirnya dia pilih jalan kaki. Pas nyampe sungai, kami jumpai jembatan gantung darurat yang papannya jarang-jarang, Kalo orang lokal sini mungkin sudah terbiasa, tapi ini cewek Jakarte coy. Sampe pusing aku melihatnya uring-uringan dan bolak-balik teriak minta solusi.

Akhirnya ku tawarkan saja untuk megangi dia saat nyebrang meniti jembatan goyang keren itu, namun baru dapat setengah jalan, dia sudah mogok lagi dia gara-gara di ujung sana banyak anak-anak lagi mandi di sungai, saat aku tanya apa hubungannya takut nyebrang dengan orang mandi, Eh, jebul cuman sepele, Pas lewat nanti, dia takut diintip celana dalamnya dari bawah,.hedeeehhhh,…

 Jika saja aku boleh berdoa yang dikabulkan tanpa syarat, mendingan aku minta dia pingsan saja sekalian, agar bisa langsung digotong tanpa berisik, Plus bonus bisa kasih nafas buatan untuk menyadarkannya setelah sampai seberang nanti.(FF)
Share this article :

Posting Komentar

Followers My Blog

 
Support : Creating Website | Fahruddin Fitriya SH | Kecoak Elektronik
Copyright © 2012. PENA FITRIYA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Vitrah Nusantara
Proudly powered by Blogger