Tumbal Pesugihan

Jumat, 20 Januari 20121komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Duit kuwi bos
Belum lama ini aku berbincang dengan warga lokal, dari sekian banyak topik perbincangan ada satu cerita dari warga penduduk lokal yang lumayan menarik, yakni mengenai tumbal pesugihan.

Terlepas dari masalah agama atau tahayul, hal-hal klenik semacam itu aku kira hanya ada di Jawa yang identik dengan Nyi Blorong atau Nyi Roro Kidul, ternyata disini pun ada orang yang memuja setan demi kekayaan instan, warga tersebut bercerita tentang salah satu keluarga besar yang kaya raya, dari delapan bersaudara itu yang hartanya berlimpah hanya satu orang, ketujuh saudaranya hanya lontang-lantung dan semua kebutuhan hidupnya ditanggung oleh si sukses itu, semua diberikan rumah dan mobil termasuk anak-anaknya.

Aku sempat menepis cerita, karena menurutku membantu saudara yang kurang beruntung itu sesuatu yang wajar namun warga tadi tetap bersikukuh dengan gosip yang beredar di masyarakat. Katanya, pada waktu masih sama-sama miskin, semua keluarganya itu sehat wal afiat, begitu dia mulai kaya mendadak, satu persatu saudaranya mulai bertingkah seperti orang stres sampai sekarang. Dia melanjutkan, mereka memang dibuat setengah gila sebagai tumbal atau kompensasi atas kekayaan yang berlimpah tersebut.

Jadi ingat waktu aku beberapa tahun tinggal di pedalaman Jawa Barat. Mencari kekayaan dengan cara sesat semacam itu sudah menjadi rahasia umum dan bukan lagi dianggap aib. Tak heran bila sebuah kampung kecil yang terpencil kehidupannya lumayan mewah. Memang tidak semuanya begitu. Yang masih berada di jalan yang benar juga banyak. Kompensasi yang berlaku di pemujaan kampung itu adalah tidak punya keturunan. Makanya disana banyak orang kaya raya tapi tidak punya anak. Setelah orang itu meninggal, ya habislah semua harta kekayaannya itu.

Cerita yang lain aku temukan di daerah pesisir selatan masih di Jawa Barat juga. Ini agak aneh dan susah dimengerti tapi kisahnya memang begitu. Yang berlaku adalah kontrak umur. Misalkan dia teken kontrak selama 10 tahun, dalam jangka waktu segitu dia mendadak kaya raya. Setelah 10 tahun berlalu, dia akan meninggal dan seluruh hartanya juga habis dalam waktu singkat kena berbagai musibah. Mitosnya, sebenarnya dia itu belum mati. Tapi pindah ke alam ghaib jadi kacung di keraton dedemit yang dipujanya sampai batas waktu umur yang sebenarnya. Misalkan dia mati dimakan demit di umur 50 tahun, sedangkan takdirnya mati di umur 60, berarti selama 10 tahun dia berada di alam antah berantah.

Karena sudah umum, kasus-kasus semacam itu sudah tidak ada lagi tetangga yang mempergunjingkan, toh mereka tidak merugikan orang lain sebagaimana halnya pemelihara tuyul atau babi ngepet. Malah tetangga sebelah kos-kosan pernah mengaku kalau diapun ikutan menggadaikan umur ke setan. Aku sempat tak percaya melihat kehidupannya yang biasa-biasa saja tak seperti orang lain yang wah.

Entah bagaimana awal mulanya, tetangga itu malah jadi curhat tentang prinsip hidupnya. Dia merasa orang bodoh dan miskin, tapi tak ingin anak-anaknya bernasib sama. Karena kondisi ekonominya yang tak memungkinkan, sedangkan dia merasa punya tanggung jawab atas masa depan anak, diapun nekat melakukan itu.

Ngga sengaja nemu
Alasannya kenapa hidupnya tidak dibikin mewah, katanya takut anak-anaknya jadi manja. Dia didik anak-anaknya dengan baik agar menjadi orang yang ulet dan mandiri. Bagaimanapun juga dia tau resikonya. Ketika kontraknya habis, semua kekayaannya akan kembali lenyap. Sebelum saat itu tiba, semuanya disekolahkan setinggi mungkin. Menurut pemikiran dia, hartanya memang akan hilang, tapi apa yang sudah masuk dalam otak anak-anaknya tak akan hilang. Sayang aku hanya setahun di sana dan tak tahu kelanjutan cerita setelah si bapak itu meninggal. Apakah hanya hartanya saja yang musnah atau anak-anaknya juga ikut berubah jadi bego.

Percaya atau tidak, itulah sebuah realita tentang kehidupan manusia yang kadang aneh-aneh di mata manusia lainnya. Aku tak mau menyangkutpautkan cerita ini dengan masalah religi karena pasti akan berbenturan. Mungkin memang banyak cerita lain tentang tumbal pesugihan semacam ini. Namun hanya kisah diatas yang aku lihat dan dengar dengan mata kepala sendiri di lingkunganku. Soal tumbal darah perawan, bayi, tuyul, ngepet dan semacamnya sampai sekarang aku belum pernah temukan apalagi nyobain. Amit-amit dah...
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

20 Juni 2013 07.39

saya percaya dengan cerita ini, tp saya tidak percaya dengan isi cerita ini, tidak ada pesugihan dari setan, karena setan tidak bisa produksi uang, tugas setan adalah mengggu & menyesatkan manusia agar jauh dari tuhannya, dan cerita ini hanya ada di negara indonesia, dan juga termasuk orang2 yang susah dan miskin iman hingga sesat meyakini hal yang tidak semestinya. contoh negara maju tidak ada pesugihan. kalau ada pesugihan mengapa negara ini rakyatnya sengsara, bukankah cukup tumbalkan saja rakyat2 nya dan pejabatnya yang hanya mengotori dan merugikan negara saja..

Poskan Komentar

Followers My Blog

Google+ Followers

 
Support : Creating Website | Fahruddin Fitriya SH | Kecoak Elektronik
Copyright © 2012. PENA FITRIYA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Vitrah Nusantara
Proudly powered by Blogger