Intelektual Mahasiswa Munafik!!! Dalam Sebuah Topeng “Seminar”

Selasa, 21 Februari 20120 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Ilustrasi
Entah kenapa akhir-akhir ini aku tertarik sekali gelar gulung tulisan lama terutama tulisan dunia persilatan di kampus, dunia dimana manusia-manusia beradab dan biadab dididik bersama, dunia yang jumawa menyebut dirinya negara di dalam negara, dunia yang tidak hanya mengenal hitam putih saja, disana ada Merah, Kuning, Kelabu, Merah muda dan Biru. Yang terakhir ini ngelantur bro, ngga ada hubungannya sama sekali, kayak balon hijau yang meletus sama tabung gas Liquefied Petroleum Gas (Elpiji/LPG) 3 Kilogram (Kg) yang meledak karena warnanya juga hijau, sama-sama jaka sembung naek ojek, ngga nyambung jeck,…

Saat masih menjadi mahasiswa dulu, sering sekali emailku disinggahi oleh iklan-iklan tentang seminar tak terkecuali inbox telephone seluler (Ponsel) ku pun jadi sasaran tembak mereka. Teman-teman tersebut sebagian besar berasal dari Himpunan Mahasiswa (HIMA), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Senat Mahasiswa (SEMA), Dewan Mahasiswa (DEMA) dan berbagai rupa jubah organ intra maupun ekstra dengan bangganya menyatakan.”eh Himpunanku/Organku mau ngadain seminar loh”, atau Ada usul konkret, bagaimana kalau kita ngadain seminar agar rakyat tertolong” dan sebagainya.

Terus terang, rasanya sungguh munafik bangga hanya dengan menyelenggarakan seminar. Lebih munafik lagi adalah menyatakan seminar dapat menolong rakyat. Karena jengah dengan seringnya iklan semacam itu, suatu saat aku membalas email mereka,“hai teman, seminar-seminar atau apalah acara yang kau selenggarakan di gedung besar, dengan dasi, jas, dan coffee break itu hanyalah ungkapan kemandulanmu sebagai mahasiswa. Tidak perlu kau banggakan, dan tidak perlu juga kau bicarakan.” Lalu dibalasnya dengan singkat, “Trus apa yang harus di perbuat?”

Selidik punya selidik ternyata teman tersebut masih satu organ intra (BEM) denganku, dengan semangat empat lima, ku balas lagi emailnya, “kembali pada TRI DARMA PERGURUAN TINGGI Yakni; Pendidikan dan pengajaran, Penelitian, serta Pengabdian pada masyarakat, semua harus dimulai dari diri sendiri, kuatkan tekad/azzam untuk selalu melakukan perubahan yang lebih berkemajuan, menunjukkan identitas mahasiswa serta merubah paradigma berfikir dari mental penjajah menjadi penebar rahmat.” Yang ini memang subjektif karena aku tahu benar mental teman yang satu ini. Kalau ada acara asasnya UUD (Ujung-Ujungnya Duit), kalau ngga gitu acara di-Tunda (TUnggu uaNgnya aDA) dan ketika ada yang berperkara selalu menerapkan KUHP (Kasih Uang Habis Perkara).

Entah tersinggung atau merasa digurui teman tersebut tak membalasnya. Tapi satu sisi aku masih on dan semangat-semangatnya berceramah ria, maka ku kirim lagi email untuknya, “Ilmu apa yang sudah kau terapkan dengan menyelenggarakan seminar itu? Hai teman, ilmu yang kau dapatkan selama di kampus bukanlah ilmu untuk menjadi mc, untuk menjadi penerima tamu, ataukah ilmu untuk menjadi moderator. Ilmu yang kau dapatkan di kampus adalah ilmu alam yang diberikan Tuhanmu untuk kau sampaikan kepada umat-Nya. Jadi janganlah kau bangga dengan segelintir kepandaianmu menggunakan jas, dasi, atau sebagainya, sementara rakyat di luar sana menantikan uluran tanganmu".

Setelah rangkaian kalimat melayang ke inbox emailnya, tidak ada lagi dia mengirim iklan atau ajakan seminar, bahkan email siluman yang datang tak di undang, pulang tak diantarpun sirna dengan sendiri. Kuat dugaan teman tersebut menggunakan banyak akun email untuk melancarkan aksinya (woro-woro). Tapi kangen juga rasanya email menjadi sepi woro-woro. Iseng-iseng ku email lagi teman tersebut, “kapan ada seminar dikampus konservasi (UNNES), pengen ikutan nih,” lalu dibalasnya “sory bro, kami sudah undang penceramah, kalau mau pasang iklan, monggo,” dengan entengnya ku balas “biayanya gratis ya, isi iklannya (BEM KM UN*** menyediakan jasa Event Organizer, spesialisasi untuk seminar, nikahan, sunatan, dan lain-lain. Contact Person 085290202XXX),” di balas lagi olehnya, “gundulmu”.

Memang prestise kepanitiaan seminar dalam sebuah curriculum vitae (CV) lebih bergengsi daripada prestise partisipasi kita dalam membantu rakyat. Tapi CV hanya digunakan untuk mencari pekerjaan di dunia. Menyitir sebuah kalimat yang sering kali diucapkan oleh teman yang lain (Bukan teman promotor seminar yang tadi), ”Tuhan tidak akan bertanya mana CV mu, tapi Tuhan pasti akan bertanya sudahkan ilmu yang dititipkan-Nya padamu kau gunakan untuk umat-Nya”.

Bukan maksud untuk menggurui, tetapi aku ingin kita semua ingat (Tuhan menganjurkan kita saling mengingatkan dalam kebaikan) jika hidup ini tidak hanya di dunia saja. Kebanggaan hidup bukan saat memakai dasi dan jas yang menonjolkan gaya hidup. Gaya hidup bukan terlihat saat kita menikmati coffe break ataukah makan di hotel berbintang. Gaya hidup yang sejati adalah saat kita bisa menyatu dengan lingkungan sekitar. Lingkungan yang diberikan Tuhan padamu.

Wahai mahasiswa-mahasiswa hedonis (merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Franz Magnis-Suseno.1987, Etika Dasar; Masalah-masalah pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 114) pernahkah engkau malu menggunakan dana puluhan juta rupiah dari para sponsor untuk makan-makan di hotel berbintang, duduk-duduk di aula ber-ac atau malah tidur disana. Pernahkah saat itu kau memikirkan orang-orang menderita di pelosok Indonesia sana?

Sungguh ironis cermin mahasiswa Indonesia saat ini. Berkoar-koar di jalan membela rakyat, tapi di sisi lain bertipikal hedonis. Senang foya-foya menghamburkan uang yang seharusnya bisa digunakan untuk menolong rakyat. Menghabiskan listrik, BBM, atau uang hanya untuk pergi berdarmawisata, sementara di sisi kiri kanan jalan yang dilalui terpampang realita bangsa saat ini.

Beginilah moral mahasiswa Indonesia yang sebenarnya, moral-moral munafik. Sama seperti pelajaran kemunafikan yang berbingkai Pancasila yang dipelajarinya. Pelajaran yang hanya mengandalkan imajinasi dan bukan realitas pribadi. Pelajaran yang hanya mengandalkan hitam di atas putih daripada realitas kebenaran hakiki. Loh kok malah seperti orasi, tetapi apapun itu sepertinya kondisi kampus saat aku kuliah dulu dengan kondisi kampus saat ini sepertinya beda-beda tipis. 
Share this article :

Posting Komentar

Followers My Blog

 
Support : Creating Website | Fahruddin Fitriya SH | Kecoak Elektronik
Copyright © 2012. PENA FITRIYA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Vitrah Nusantara
Proudly powered by Blogger