MLM

Kamis, 09 Februari 20120 komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Diantara kita pasti sangat sering mendapat tawaran atau ajakan dari teman untuk bergabung di kegiatan sampingan yang katanya gampang buat cari uang melalui Multi Level Marketing (MLM). Kata bosan kadang sempat terlintas dalam benak namun bagaimanapun juga mereka lagi usaha. Sedikit kekeliruan yang sering teman-teman alami hanya di soal kurang teliti sebelum membeli. Asal dengar kisah uang gampang, langsung ikut. Begitu hasilnya merugikan, yang ngajak dicaci maki.

Jujur saja saya belum berminat untuk memburu rupiah melalui MLM, apalagi yang berbasis piramida. Alasan paling mendasar karena mungkin bisnis tersebut ngga jelas atau saya yang kurang jelas dalam memahami bisnis tersebut, dari pemahaman saya bisnis ini intinya cuma cari-cari referal untuk bayar komisi upline. Pengikut paling bontot seringkali cuma bisa gigit jari. Dan kasus semacam ini juga banyak terjadi tidak hanya di lingkungan online saja. Begitu banyak sistem usaha berjenjang sampai-sampai banyak orang menggeneralisir kalo multilevel marketing itu tidak bagus.

Meskipun dari dulu saya belum pernah gabung, sepertinya ada juga MLM yang cukup baik dan tidak merugikan anggotanya. Ini yang perlu dibedakan dengan permainan uang sistem piramid. Di MLM yang baik, kesalahan terbesar justru di pola pikir anggotanya. Cara mereka merekrut downline lebih banyak mengumbar bonus muluk-muluk tanpa menegaskan bahwa poin paling penting pada usaha mereka adalah jualan produk. Mencari downline adalah langkah kedua yang dilakukan setelah marketing secara pribadi berhasil.

Ibarat kita membuka warung sembako di rumah, besarkan dulu warungnya, baru buka cabang di tempat lain. Mereka yang bergabung di MLM kebanyakan hanya mikirin buka cabang sebanyak mungkin, tapi warung yang di rumah ngga diurus dengan baik. Wajar kalo akhirnya jadi kedodoran dan mencap pemasaran berjenjang hanya menjual kebohongan. Harus dibedakan antara MLM yang beneran berjualan dengan permainan piramida yang benar-benar hanya memutar-mutar uang anggota.

Salah satu teman yang sukses bermain dengan MLM pernah bercerita, bahwa cari duit gampang di MLM adalah cerita bohong. Tetap butuh kerja keras dan banyak belajar marketing sampai grafik penjualannya mencapai target. Setelah itu baru dia mencari downline dan mendidik mereka menjadi marketer handal. Presentasi tentang bonus ini itu tidak pernah dia besar-besarkan, makanya wajar kalo downlinenya ngga begitu banyak tapi bermutu. Berbeda dengan kebanyakan orang yang tak mampu jualan tapi tiap hari cuma presentasi mencari anak buah. Untuk menutup target poin mereka gunakan uang pribadi. Setelah dana pribadi habis, mulai deh gangguin teman, saudara, orang tua untuk bantu kejar target. Tak heran kalo makin banyak orang yang antipati ketika mendengar kata MLM.

Jadi kesimpulannya, jika kita ingin sukses pikirkan dulu kerja kerasnya, kalau hanya mikirin bonus doang, dijamin kita akan merasa tertiup dikemudian hari, selain itu kita juga harus pelajari dulu dan jangan main vonis kalau MLM itu curang, merugikan, tipu-tipu dan sebagainya.

Jangan sampai obrolan di kost saat saya kuliah dulu terulang, ketika itu wabah MLM memang sedang merajalela. Seorang teman bertanya “MLM tuh apaan sih?” teman lain menjawab, “ngga usah ikutan, ngga baik,” teman lain menimpali, “Iya tuh, apalagi yang belum nikah, Haram hukumnya,”. Mendengar obrolan tersebut saya yang masih hijau mengenai MLM makin bingung, mereka ini sedang ngomongin bisnis pemasaran berjenjang apa sedang membicarakan ML pas lagi M.
Share this article :

Posting Komentar

Followers My Blog

 
Support : Creating Website | Fahruddin Fitriya SH | Kecoak Elektronik
Copyright © 2012. PENA FITRIYA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Vitrah Nusantara
Proudly powered by Blogger