Diskusi Koran Kuning (Bagian II)

Senin, 05 November 20121komentar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Uses and Gratification

Orang boleh berpendapat jika Koran-koran dibawah Jawa Pos seperti Palangka Ekspres, Pos Metro Medan, Lampu Hijau dan Koran-koran sejenis dikatogorikan sebagai Koran kuning, namun jika mereka menganggap Koran-koran tersebut mengabaikan fakta yang ada, itu salah Besar.
---------------------------------------
Dari diskusi yang yang digelar Palangka Ekspres di Grand Hotel Palangka Raya, juga membahas tentang struktur penulisan berita dan teknik penjudulan. Untuk struktur berita, harus di usahakan meyesuaikan konsumen, begitupun teknik penjudulan.

Sebagai contoh, untuk masalah penjudulan Koran kuning sering memakai prokem-prokem yang populer di masyarakat, tak peduli trik ini sering sekali ditangkap sisi jeleknya, yaitu sebagai koran yang amburadul, tren penulisannya tanpa tedeng aling-aling. Hal semacam ini memang sengaja, karena Koran kuning harus mampu melihat pasar yang ada

“Perlu diingat segmen pasar kami adalah golongan menengah ke bawah, sehingga kami juga sering menyelipkan bahasa-bahasa lokal,” aku Hartono.

Apa kata akademisi tentang Koran kuning?

Seusai mengikuti diskusi yang digagas Koran kuning percontohan di pulau Kalimantan ini, saya mencoba menghubungi Arif Hidayat, seorang pakar komunikasi yang juga pengajar di Jurusan Komunikasi UNNES (Universitas Negeri Semrang)  untuk dimintai pendapatnya tentang koran kuning.

Menurutnya, media kuning hadir sebagai salah satu alternatif  bacaan bagi masyarakat di tengah-tengah bejibunnya media yang homogen, tidak bombastis, dan biasa-biasa saja. Padahal ada sekelompok golongan yang merasa terabaikan dengan homogennya media-media seperti itu. Ada golongan yang sulit mencerna tulisan-tulisan di media-media yang bahasanya akademik.

“Koran semacam ini adalah Koran segmented dan sebagai pemenuhan kebutuhan bagi golongan menengah kebawah,” ujarnya per ponsel.

Ini bisa terlihat dari struktur bahasa yang sederhana. Narasumber-narasumber yang tampil di media ini rata-rata adalah golongan menengah ke bawah. Dan Mereka akan merasa dihargai.

“Kita akan senang untuk tampil di media. Jadi secara psikologis media ini adalah media kepunyaan mereka,” tutur Arif.

Dalam ilmu komunikasi ada terminologi Uses and Gratification, selalu ada alasan logis seseorang untuk mengonsumsi media. Para pembaca media kuning merasa senang dan terlayani kebutuhannya sehingga mereka membeli. Ini akan menjadi pasar yang sangat potensial, karena pada dasarnya rata-rata orang Indonesia adalah golongan menengah ke bawah.

Pakar komunikasi yang gemar berdiskusi dengan mahasiswa lintas jurusan ini mencontohkan sebuah judul yang ada di sebuah Koran kuning, “Sempat 'ngemut', bersetubuh di ruang tamu”. Mungkin kaum yang berpendidikan tinggi bingung membaca judul ini, tapi bagi tukang becak, preman pasar dan tukang parkir judul ini sangat meaningful bagi mereka.

“Pemaknaan pengguna kereta ekonomi dengan orang yang duduk di kursi eksekutif itu berbeda,” tukasnya.

Masalahnya kita terkejut dengan model pemberitaan tersebut. Kita menganggap hal itu memberi pengaruh buruk bagi masyarakat. Tetapi di sisi lain, segmen yang dibidik koran kuning itu tadi sudah biasa dengan hal-hal yang seperti itu.

“Kita harus paham dengan logika segmen, kita tidak perlu khawatir dengan masalah isi. Ini media untuk kita, ini media untuk mereka,” jelasnya.

Menurutnya, fungsi media kuning sebenarnya penting. Di dalam “koran putih” seperti Kompas dan lain-lain, berita kriminal amat sedikit dimuat dan pembahasan bisa dibilang tidak terlalu mendalam. Dengan membaca koran kuning, masyarakat jadi lebih waspada akan berbagai bentuk tindak kejahatan.

“Koran kuning juga alat yang bagus sebagai media referentif bagi golongan menengah ke bawah. Referensi-referensi dari media kuning ini yang membuat mereka sering berdiskusi dan bertambah akrab,” jelasnya lagi.

Saat ditanya, benarkah media kuning berperan meningkatkan terjadinya tindak kejahatan sekarang ini, ia menjawab tidak benar. “Kita sering mengkambinghitamkan media atas kasus ini padahal sebenarnya salah. Seseorang memerkosa bukan karena dia membaca koran kuning, tetapi karena dia tidak punya uang untuk memuaskan libidonya ke pelacur. Itu saja!” katanya.

Perlu digaris bawahi, imbuh Arif, Media itu fungsinya hanya memberitakan hal-hal yang bersifat fakta saja, tinggal kita mau mengakui atau tidak melihat fakta yang seperti itu. Yang menjadi masalah mungkin frame dan penyajiannya.

Share this article :

+ komentar + 1 komentar

18 Oktober 2013 pukul 00.37

Nice news, Makasih kang..

Posting Komentar

Followers My Blog

 
Support : Creating Website | Fahruddin Fitriya SH | Kecoak Elektronik
Copyright © 2012. PENA FITRIYA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Vitrah Nusantara
Proudly powered by Blogger